Seperti dilansir AFP, Kamis (16/10/2014), Obama sengaja membatalkan kunjungan kampanyenya dan menggelar rapat mendadak soal Ebola di Gedung Putih.
Dalam rapat tersebut, Obama menekankan, pentingnya membantu negara-negara Afrika untuk memutus penyebaran virus mematikan tersebut. Bantuan itu disebut Obama sebagai investasi bagi kesehatan publik AS sendiri.
"Jika kita kita menangggapi secara internasional dengan cara yang efektif... maka kita bisa saja menghadapi masalah sendiri," ucap Obama dalam rapat.
Rapat tersebut digelar setelah seorang pekerja medis lainnya di Dallas, Texas dinyatakan positif terinfeksi Ebola. Pekerja medis tersebut diketahui sempat merawat pria Liberia yang meninggal akibat Ebola pekan lalu.
Rapat darurat ini dihadiri sejumlah pejabat tinggi AS seperti Wakil Presiden Joe Biden, Menteri Pertahanan Chuck Hagel, Menteri Kesehatan dan Layanan Publik Sylvia Burwell dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Jeh Johson.
"Membahas soal monitoring, pengawasan, pemantauan dengan cara yang jauh lebih agresif dari yang sedang dilakukan di Dallas," sebut Obama soal isi rapat tersebut. Menurutnya, langkah agresif perlu diterapkan pada seluruh rumah sakit dan klinik di seluruh wilayah AS.
"Ini bukan situasi, yang seperti flu, risiko penyebaran penyakit ini sangat dekat," imbuh Obama, sembari menyebutkan bahwa dirinya sempat berjabat tangan, berpelukan dan mencium para perawat yang merawat pasien Ebola di rumah sakit Emory University di Atlanta.
"Mereka mengikuti protokol. Mereka tahu apa yang mereka lakukan dan saya merasa sangat aman untuk melakukannya," ucapnya.
"Saya sangat yakini bahwa kita bisa mencegah wabah penyakit ini di sini, di AS... Kunci penting untuk memahami soal penyakit ini adalah protokol yang ada terlaksana," tandas Obama
Sejauh ini, tercatat ada hampir 4.500 orang tewas akibat virus Ebola. Sebagian besar korban tewas berasal dari negara-negara di Afrika Barat, yang merupakan awal mula wabah Ebola menyebar.
(nvc/ita)











































