“Suhu badan pekerja itu sekitar 99,5 Fahrenheit (37,5 Celcius) sebelum dia naik pesawat,” kata Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian penyakit AS (CDC), Tom Freiden, seperti dilansir CNN, Kamis (16/10/2014).
Menurutnya, tak seharusnya pekerja yang sudah terinfeksi Ebola naik pesawat umum. Pasalnya dia juga ikut merawat pria asal Liberia, Thomas Eric Duncan, di bangsal isolasi di Texas Health Presbyterian Hospital. Duncan yang terinfeksi Ebola akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tersebut.
Sebelumnya, perawat Duncan yang lain, Nina Pham (26 tahun) menjadi orang pertama yang tertular virus mematikan tersebut. Kedua pekerja medis itu pernah punya kontak dengan Duncan saat dia terinfeksi Ebola pada 28-30 September lalu.
Duncan sendiri diyakini tertular virus itu sebelum meninggalkan Liberia dan naik pesawat menuju Texas untuk mengunjungi keluarganya.
Amerika Serikat berusaha untuk mengendalikan penyebaran Ebola di tanah airnya. Karena itu setiap pekerja medis yang ikut menangani atau punya kontak dengan Duncan akan dimonitor terus.
Saat ini ada sekitar 75 petugas pelayanan kesehatan di Dallas yang terus dipantau. “Mereka dibolehkan bepergian, tapi jangan pakai pesawat komersial,” imbuh Freiden.
Ke depannya, CDC akan terus mewancarai sekitar 132 penumpang yang satu pesawat dengan Vinson. Menurutnya risiko penumpang lain tertular Ebola dari Vinson memang rendah, namun pejabat tinggi kesehatan AS tak mau menggampangkan potensi tersebut.
Ancaman wabah Ebola menjadi epidemic yang semakin mengerikan. Pertama kali ditemukan pada 1976 di Republik Demokratik Kongo, virus ini sudah menyebar ke Eropa dan Amerika. Menurut data WHO, jumlah korban tewas karena Ebola sudah melewati angka 4.493 orang.
(ros/kha)











































