Seperti dilansir AFP, Rabu (15/10/2014), bentrokan terjadi ketika polisi melakukan operasi pembersihan barikade di sejumlah lokasi unjuk rasa. Demonstran melakukan perlawanan ketika polisi membersihkan ruas jalan Lung Wo Road, dekat kantor pusat pemerintahan.
Puluhan polisi dengan pelindung dan tongkat membentuk barisan sambil mendekati barikade yang sengaja dipasang demonstran. Demonstran diminta mundur, namun mereka menolak dan malah mendekati polisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah demonstran berhasil diamankan, kemudian diborgol dan dibawa dengan mobil polisi. Bentrokan ini terjadi sepanjang Selasa (14/10) tengah malam hingga Rabu (15/10) dini hari.
Menurut kepolisian setempat, ada 45 demonstran yang ditangkap dalam bentrokan tersebut. Mereka yang ditangkap terdiri atas 37 pria dan 8 wanita.
Hanya dalam waktu beberapa jam, ruas lalu lintas di Lung Wo Road kembali normal. Para demonstran lain sudah tidak tampak memblokir jalan seperti sebelumnya.
Di sisi lain, aksi kekerasan polisi serta penggunaan semprotan merica menuai kecaman demonstran. Namun kepolisian setempat memiliki alasan tersendiri.
"Melawan barisan polisi bahkan dengan mengangkat tangan bukanlah tindakan damai," sebut polisi dalam pernyataannya, yang juga menyatakan telah meminta demonstran untuk tetap tenang dan menahan diri.
"Polisi menggunakan semprotan merica tanpa peringatan apapun. Demonstran dipukuli polisi," tutur seorang mahasiswa berusia 18 tahun, Ben Ng yang bersama demonstran lain di lokasi.
"Baik demonstran maupun polisi, emosinya sama-sama tidak stabil," imbuhnya.
Tidak hanya demonstran, namun jurnalis yang ada di lokasi juga ikut menjadi korban aksi kekerasan polisi setempat. Cheng mengalami luka sobek di bibir dan luka memar di leher dan punggungnya. Dia akhirnya dibebaskan setelah menunjukkan kartu pers miliknya kepada polisi.
"(Polisi) Menarik saya, lebih dari 10 polisi, dan mereka memukuli saya, menonjok, menendang, menyikut. Saya berusaha memberitahu mereka bahwa saya seorang reporter tapi mereka tidak mendengarkan," terang Daniel Cheng, jurnalis dari protal news setempat, kepada AFP.
(nvc/asp)










































