Tuntut Uang Tambahan Atas Wabah Ebola, Pekerja Medis Liberia Akan Mogok

Tuntut Uang Tambahan Atas Wabah Ebola, Pekerja Medis Liberia Akan Mogok

- detikNews
Senin, 13 Okt 2014 11:15 WIB
Tuntut Uang Tambahan Atas Wabah Ebola, Pekerja Medis Liberia Akan Mogok
Getty Images
Monrovia, - Di tengah wabah Ebola yang melanda Liberia, para pekerja medis di negara Afrika Barat itu akan melakukan aksi mogok kerja. Aksi yang akan digelar Senin (13/10) waktu setempat ini untuk menuntut adanya uang tambahan bagi mereka karena merawat para pasien yang tertular virus Ebola.

"Mulai besok, kami akan melakukan mogok nasional di semua rumah sakit dan semua pusat kesehatan termasuk ETU (Ebola Treatment Units atau Unit Perawatan Ebola)," ujar Joseph Tamba, ketua serikat pekerja medis Liberia seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (13/10/2014).

Liberia merupakan negara yang paling parah dilanda wabah Ebola.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para staf di Island Clinic di ibukota Monrovia, klinik Ebola terbesar milik pemerintah, telah mulai bekerja lamban dalam beberapa hari terakhir terkait tuntutan mereka untuk uang tambahan.

Menurut perwakilan staf Alphonso Wesseh, puluhan pasien di klinik tersebut telah meninggal akibat Ebola sejak dimulainya aksi kerja lamban tersebut pada Jumat, 10 Oktober waktu setempat.

"Kami telah memperlambat aktivitas-aktivitas kami karena pemerintah menolak memenuhi permintaan kami. Kemarin malam, puluhan pasien meninggal," cetusnya.

Wesseh mengatakan, gaji terendah di bidang medis adalah US$ 250 per bulan.

Juru bicara pemerintah Isaac Jackson membantah adanya gangguan di Island Clinic, yang dibuka oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada akhir September lalu untuk memerangi virus Ebola.

Mustahil bagi para jurnalis untuk memverifikasi hal tersebut secara independen, sebab pemerintah Liberia melarang wartawan masuk ke klinik-klinik Ebola. Alasannya, demi privasi para pasien.

Sejauh ini lebih dari 4 ribu orang telah tewas di Afrika Barat akibat wabah Ebola yang melanda sejak awal tahun ini. Di Liberia sendiri, menurut data WHO, 2.300 orang telah tewas akibat virus mematikan tersebut, termasuk di antaranya 95 pekerja medis.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads