Tulis Kisah Perang Dunia II, Penulis Prancis Sabet Nobel Literatur 2014

- detikNews
Jumat, 10 Okt 2014 02:07 WIB
Patrick Modiano (foto: CNN)
Stockholm, -

Penulis asal Prancis Patrick Modiano memenangkan Nobel bidang Literatur tahun 2014. Royal Swedish Academy menyebut Modiano sepadan dengan seorang penulis terkenal Perancis.

Modiano relatif tak terlalu dikenal di luar Prancis. Hasil karyanya berpusat pada ingatan, hal-hal terlupakan, identitas, dan perasaan bersalah yang sering terjadi selama pendudukan Jerman pada Perang Dunia II. Dia juga telah menulis novel, buku anak-anak, dan juga skenario film.

"Kau bisa mengatakan bahwa dia adalah Marcel Proust (seorang penulis terkenal Prancis) di masa sekarang," ujar Peter Englund, sekretaris permanen Swedish Academy kepada para wartawan seperti dilansir Reuters, Kamis (9/10/2014).

"Dari hal-hal unik tentang dirinya, salah satu tentu saja gaya yang sangat tepat, sangat ekonomis. Dia menulis kalimat yang pendek, singkat dan sangat elegan. Dan dia kembali ke topik yang umumnya sama lagi dan lagi, karena topik ini memang tidak pernah habis," sambung Englund.

Modiano lahir di daerah pinggiran Prancis, Boulogne-Billancourt pada bulan Juli 1945 atau beberapa bulan setelah berakhirnya pendudukan Nazi secara resmi pada tahun 1944. Dia menjadi anak didik seorang novelis bernama Raymond Queneau yang terkenal dengan eksperimennya terhadap bahasa. Modiano juga telah memenangkan Goncourt, penghargaan prestisius Prancis, pada tahun 1978 atas karyanya.

Madiano juga sudah terkenal di Prancis selama akhir tahun 1970-an tetapi dia tidak pernah merasa nyaman berada di depan kamera dan segera menarik diri dari sorotan publik. Dia juga dikenal karena telah menjadi penulis pendamping dari skenario sebuah film kontroversial karya Louis Malle pada tahun 1974 yaitu 'Lacombe Lucien'. Film itu bercerita tentang seorang remaja yang hidup di bawah penjajahan, yang juga ditolak oleh perlawanan Prancis dan jatuh kepada kolaborator Pro-Nazi.

"Usai (menyelesaikan) masing-masing novel, aku memiliki kesan bahwa aku telah menyelesaikan semuanya. Tapi aku tahu aku akan kembali lagi dan lagi dan lagi untuk melihat detail-detail kecil yang telah menjadi bagian dari diriku. Pada akhirnya, kita akan ditentukan oleh waktu dan tempat di mana kita dilahirkan," kata Modiano saat wawancara dengan France Today pada tahun 2011.

Swedish Academy itu mengatakan bahwa penghargaan senilai 8 juta Kronor Swedia atau US$ 1,1 juta atau Rp 12 miliar untuk Modiano itu didedikasikan 'untuk seni memori yang telah dia bangkitkan pada tujuan manusia yang paling tak bisa dipahami dan kehidupan penjajahan yang tak terungkapkan'. Beberapa hasil karya Modiano kurang lebih 30 buah termasuk 'A Trace of Malice' dan 'Honeymoon'. Karya terakhirnya yaitu novel berjudul 'Pour que tu ne te perdes pas dans le quartier'.

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengatakan bahwa Modiano adalah salah satu penulis besar beberapa tahun terakhir ini. "Tak diragukan lagi, dia adalah satu dari penulis-penulis besar di awal Abad 21. Hal ini memang layak untuk seorang penulis yang bijaksana seperti banyak karyanya sangat baik," ucapnya.

Selain Modiano, ada beberapa penulis favorit yaitu penulis Jepang Haruki Murakami dan penulis Kenya Ngugi wa Thiong'o, penulis AS Philip Roth.

Pemenang Nobel Literatur paling banyak sejauh ini jatuh pada para penulis Inggris, kemudian Prancis dan Jerman. Modiano adalah orang Prancis ke-11 yang memenangkan ini setelah terakhir dimenangkan oleh Jean-Marie Gustave Le Clezio pada tahun 2008.

Bidang literatur adalah Penghargaan Nobel keempat pada tahun ini. Penghargaan ini diberi nama dari Alfred Nobel, penemu dinamit dan juga telah diadakan sejak tahun 1901 untuk pencapaian di bidang fisika, literatur, dan perdamaian sesuai keinginannya. Pemenang akan menerima hadiah mereka pada upacara resmi di Stockholm pada tanggal 10 Desember, hari ulang tahun kematian pendiri hadiah Nobel, Alfred Nobel, pada tahun 1896.

(dha/fjp)