Otoritas China menahan puluhan warganya yang mendukung unjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong. Sebanyak 60 warga diinterogasi oleh kepolisian setempat.
Selama ini, Presiden Xi Jinping tetap diam melihat unjuk rasa di Hong Kong yang terus berlangsung. Tapi pada peringatan 65 tahun berdirinya Partai Komunis yang jatuh pada Selasa (30/9), Presiden Xi akhirnya berkomentar.
"Kita tidak seharusnya memisahkan diri dari rakyat," ucap Presiden Xi, seperti dilansir AFP, Rabu (1/10/2014). Tidak diketahui pasti pernyataan Xi tersebut ditujukan kepada Hong Kong atau yang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disampaikan kelompok advokat China Human Rights Defenders (CHRD), sedikitnya ada selusin warga China yang ditahan dan beberapa orang lainnya diancam oleh otoritas setempat karena mendukung Hong Kong.
Sedangkan Amnesty International menyebutkan angka yang lebih tinggi, yakni sedikitnya 20 warga China ditahan dan sekitar 60 orang lainnya diinterogasi oleh kepolisian setempat.
"Penangkapan para aktivis di daratan China ini hanya menunjukkan mengapa banyak orang di Hong Kong yang takut dengan semakin membesarnya kendali China atas urusan wilayah mereka," ujar salah satu peneliti Amnesty International, William Nee.
Amnesty International pun menyerukan otoritas China untuk segera membebaskan para aktivis yang ditahan tersebut. Disebutkan di antaranya terdapat aktivis Wang Long yang ditahan polisi setelah memposting pesan mengenai unjuk rasa tersebut via internet. Dia dianggap menciptakan gangguan ketertiban.
(nvc/ita)










































