"Tujuannya (Putin-red) tidak hanya untuk mengambil alih Donetsk dan Lugansk," ujar PM Yatsenyuk dalam konferensi pers di Kiev, seperti dilansir AFP, Sabtu (13/9/2014).
"Tujuannya adalah untuk mengambil alih seluruh wilayah Ukraina... dia ingin menghilangkan Ukraina sebagai sebuah negara merdeka," imbuhnya dalam bahasa Inggris.
Yatsenyuk menyebut kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 5 September lalu di Minsk, antara Ukraina, separatis pro-Rusia, kemudian Rusia dan badan keamanan Eropa, OSCE hanyalah langkah awal untuk menghentikan pembantaian di Ukraina bagian timur.
Menurut Yatsenyuk, kesepakatan bilateral dengan Rusia bukan gagasan yang terbaik. Dia menyerukan kepada AS dan Uni Eropa untuk bermain aktif dalam perundingan damai untuk konflik di Ukraina bagian timur. AS juga diminta untuk menjamin kedaulatan dan kemerdekaan Ukraina.
"Mereka (Rusia) akan mengungguli kami. Putin ingin memicu konflik lagi dan menguasai wilayah kami," tegasnya.
Dengan keberadaan konflik berkepanjangan di dalam wilayahnya, Yatsenyuk menyebut, negaranya akan kesulitan untuk melakukan reformasi politik, mengatasi krisis ekonomi dan memberantas korupsi yang meluas.
"Satu-satunya orang yang mengganggu kestabilan situasi adalah Putin. Kami di dalam negara perang dan penindas utamanya adalah Federasi Rusia," tandas Yatsenyuk.
(nvc/mpr)











































