Bom Meledak di Stasiun Bawah Tanah Chile, 8 Orang Terluka

Bom Meledak di Stasiun Bawah Tanah Chile, 8 Orang Terluka

- detikNews
Selasa, 09 Sep 2014 06:51 WIB
Bom Meledak di Stasiun Bawah Tanah Chile, 8 Orang Terluka
Foto: CNN
Jakarta - Sebuah ledakan terjadi di stasiun bawah tanah atau subway di Chile dan melukai 8 orang. Pemerintah Chile pun menyebut ledakan tersebut sebagai aksi terorisme meski belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian ini.

Dilansir dari CNN, Selasa (9/9/2014), ledakan terjadi di Stasiun Escuela Militar sekitar pukul 14.00 waktu setempat, Senin (8/9/2014). Menurut juru bicara Kepolisian Nasional Chile, Mario Rozas, stasiun Metro itu berada di lingkungan kelas menengah ke atas di Las Condes. Stasiun ini digunakan oleh 150 ribu penumpang setiap harinya.

Para korban berumur 30-65 tahun dan sebagian besar terluka ketika sedang berada di sebuah restoran di dalam stasiun. "Para korban menderita trauma suara, tiga memiliki luka gores, satu terluka fraktur terbuka dan satu lagi mengalami amputasi traumatik jari," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

CNN Chile melaporkan bahan peledak berada di tempat sampah di area terbuka stasiun. Setelah kejadian ini Subway masih terus beroperasi namun kereta tidak berhenti di stasiun tersebut di mana polisi dan pekerja pelayanan darurat tengah bekerja.

Juru bicara pemerintah, Alvaro Elizalde menyatakan pemboman tersebut merupakan sebuah aksi terorisme. Pemerintah Chile pun disebutnya akan menerapkan hukum antiterorisme.

"Orang tak berdosa telah menjadi korban karena tindakan tercela ini. Semua warga Chile harus bersatu. Pemerintah mengkoordinasikan upaya untuk menentukan siapa pelakunya hingga mereka dibawa ke pengadilan," ujar Elizalde.

Beberapa ledakan telah terjadi di ibukota Chile dalam beberapa bulan terakhir. Pemboman di antaranya terjadi di bank-bank pada tengah malam dan pihak berwenang mengatakan motifnya adalah perampokan.

Ini merupakan ledakan pertama yang terjadi di tempat umum pada siang hari. Sejauh ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut.

(ear/mpr)


Berita Terkait