Parlemen Amerika Serikat bereaksi keras atas aksi keji pemenggalan wartawan AS Steven Sotloff oleh militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Parlemen memanggil Menteri Luar Negeri (Menlu) John Kerry untuk menjelaskan hal tersebut.
Anggota DPR dan Senat AS memperingatkan bahwa Presiden Barack Obama belum cukup melakukan upaya memerangi ISIS. Ketua Komisi Luar Negeri DPR AS, Ed Royce menuturkan, pihaknya memanggil Menlu Kerry untuk memberi penjelasan kepada Kongres AS pekan depan.
"Semuanya setuju bahwa pemerintahan butuh strategi, bahwa presiden harus menjelaskan kepada rakyat Amerika dan menjelaskan kepada Kongres, soal bagaimana kita akan menghadapi ancaman ini," ucap Royce dari Partai Republik kepada wartawan via telepon, seperti dilansir AFP, Rabu (3/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan resolusi kekuatan perang, yang memberikan wewenang bagi presiden untuk memerintahkan aksi militer AS tanpa perlu persetujuan Kongres, Obama meluncurkan serangan udara terhadap ISIS di Irak sejak pekan lalu.
Jika aksi tersebut diperpanjang melebihi 60 hari, maka diperlukan persetujuan Kongres. Royce yakin Obama akan mengambil langkah tersebut.
"Kami mengantisipasi akan adanya voting untuk mengizinkan penggunaan kekuatan militer (sebelum batas waktu 60 hari berakhir)," sebut Royce.
Pada Minggu (31/8) lalu, Ketua Komisi Intelijen Senat AS Dianne Feinstein mengingatkan Obama bahwa dia belum melakukan banyak hal untuk memerangi ancaman ISIS. "Saya pikir kita belajar satu hal soal presiden kita, yakni dia sangat berhati-hati. Mungkin dalam hal ini, terlalu berhati-hati," ucapnya kepada NBC's Meet the Press.
Dalam video terbaru yang dirilis ISIS, Sotloff menyatakan dirinya adalah korban kebijakan Obama yang menginstruksikan serangan udara terhadap ISIS di Irak. Anggota militan dalam video itu menyatakan pemenggalan dilakukan karena kebijakan luar negeri AS yang dinilai arogan.
Suara anggota militan yang kental dengan aksen Inggris tersebut, diperkirakan sama dengan suara pria dalam video pemenggalan wartawan AS, James Foley pada 19 Agustus 2014 lalu. Lokasi pemenggalan juga diduga sama dengan lokasi pemenggalan Foley.
(nvc/ita)











































