Disampaikan seorang pejabat pemerintahan Presiden Barack Obama, seperti dilansir Reuters, Kamis (28/8/2014), Inggris dan Australia merupakan mitra potensial bagi AS dalam misi ini.
Sedangkan Jerman pada Rabu (27/8), menuturkan bahwa pihaknya tengah dalam pembicaraan dengan AS dan juga mitra internasional lainnya tentang kemungkinan aksi militer terhadap ISIS di Suriah. Namun Jerman menyatakan tidak akan ikut bergabung dalam misi AS tersebut.
"Kami bekerja sama dengan mitra-mitra kami dan menanyakan apakah mereka bisa berkontribusi. Ada sejumlah cara untuk berkontribusi: secara kemanusiaan, militer, intelijen, diplomatik," tutur juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki kepada wartawan setempat.
Tidak diketahui pasti ada berapa negara yang akan bergabung dengan AS dalam operasi militer di Suriah ini. Sekutu dekat seperti Inggris memiliki kenangan pahit bergabung dalam koalisi AS dalam invasi Irak tahun 2003 lalu.
Pihak kedutaan Inggris di Washington, AS mengaku belum menerima permintaan AS terkait rencana operasi militer di Suriah. Sedangkan negara lain seperti Prancis telah menyatakan menolak bergabung.
Lebih lanjut, pejabat AS tersebut menyebutkan bahwa, AS bisa saja bertindak sendiri jika diperlukan. Terlebih, ISIS telah secara terang-terangan melontarkan ancaman bagi AS.
Menurut pejabat AS tersebut, misi kemanusiaan dan operasi militer terbatas seperti di Irak, mampu mengurangi kekhawatiran sekutu untuk bergabung dengan rencana aksi militer AS di Suriah.
"Ada bukti bahwa konsep di Irak dengan kampanye terbatas, Anda bisa melakukan sesuatu terhadap orang-orang ini. Apa yang telah kami lakukan mendapat tawaran bantuan dari 25-30 negara," sebut pejabat yang enggan menyebut namanya ini, merujuk pada misi kemanusiaan AS di Irak.
(nvc/ita)











































