Pembunuhan wartawan Amerika Serikat James Foley oleh militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjadi sorotan karena pelakunya beraksen Inggris. Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Philip Hammond menyebut pelaku merupakan pengkhianat bangsa.
Muncul kekhawatiran di London bahwa pelaku jihad dengan paspor Inggris yang terbang ke Suriah dan Irak, entah untuk ikut pelatihan atau ikut bertempur dengan ISIS, akan pulang untuk melakukan aksi terorisme di Inggris.
Dalam video yang dirilis ISIS pekan lalu, seorang pria berpenutup wajah dengan pakaian serba hitam mengeksekusi mati Foley. Yang menarik, pria tersebut berbicara lancar dalam bahasa Inggris dengan logat Inggris yang kental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengerikan untuk berpikir bahwa pelaku dari tindakan keji ini bisa saja dibesarkan di Inggris," ujar Hammond dalam artikel Sunday Times seperti dilansir AFP, Senin (25/8/2014).
"Ini merupakan sebuah pengkhianatan bagi negara kita, norma kita dan segala hal yang dibanggakan oleh rakyat Inggris," imbuhnya.
Hammond mengingatkan, ISIS berpotensi mengubah Irak dan Suriah menjadi negara teroris sebagai dasar untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara Barat.
"Kecuali mereka dihentikan, cepat atau lambat mereka akan menyerang kita di tanah Inggris," tandasnya.
(nvc/ita)











































