Operasi militer Israel di Gaza tidak memiliki batas waktu. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan gempuran udara Israel akan terus berlanjut, selama mungkin yang diperlukan.
"Operation Protective Edge akan terus berlanjut hingga tujuannya berhasil dicapai... ini mungkin membutuhkan waktu," tutur PM Netanyahu seperti dilansir AFP, Senin (25/8/2014).
Operation Protective Edge merupakan operasi militer Israel di Gaza yang dimulai semenjak 8 Juli lalu. Serangan udara Israel di Gaza pada Minggu (24/8), menewaskan dua warga Palestina, sementara Hamas terus menembakkan roket ke wilayah Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perundingan untuk menerapkan gencatan senjata jangka panjang yang digelar di Kairo, Mesir kini terhenti. Yang terbaru, Mesir kembali mengajukan proposal gencatan senjata pada Sabtu (23/8) demi memungkinkan para perunding dari kedua pihak, Israel dan Hamas kembali ke meja perundingan untuk kembali membahas gencatan senjata.
Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dari kedua pihak terkait proposal Mesir tersebut.
Menurut militer Israel, pada Minggu (24/8) pihaknya melancarkan serangan ke sebanyak 20 target teror di Gaza. Masih menurut militer Israel, Hamas menembakkan sedikitnya 20 roket atau mortir ke wilayah Israel.
Semenjak gencatan senjata berakhir pada Selasa (19/8) lalu, dilaporkan sedikitnya 88 warga Palestina dan seorang bocah Israel berusia 4 tahun tewas akibat aksi saling serang antara Israel dan Hamas.
Dalam rapat kabinet di Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv, PM Netanyahu kembali menyampaikan ancamannya pada Hamas terkait tewasnya bocah 4 tahun. "Hamas tengah membayarnya dan akan terus membayarnya, harga yang mahal untuk kejahatan yang dilakukannya," tegasnya.
"Saya menyerukan kepada warga Gaza untuk segera meninggalkan bangunan apapun yang menjadi lokasi Hamas melakukan aktivitas terornya terhadap kami. Lokasi-lokasi semacam itu menjadi target bagi kami," imbuh Netanyahu.
(nvc/ita)











































