Menurut GlobalPost, salah satu media tempat Foley bekerja, seperti dilansir AFP, Jumat (22/8/2014), kelompok ISIS atau Daulah Islamiyah telah meminta uang tebusan senilai US$ 132 juta untuk pembebasan jurnalis foto tersebut. Namun pemerintahan Presiden AS Barack Obama menolak mentah-mentah untuk membayar tebusan tersebut.
Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf menegaskan, pemerintah AS menentang pembayaran uang tebusan seperti itu. Alasannya, hal itu hanya akan mendorong terjadinya aksi-aksi penyanderaan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu (pembayaran tebusan) hanya akan mendanai dan membiayai kelompok yang kemampuannya sedang coba kami lumpuhkan," tandasnya. Harf pun menekankan, pemerintah AS tidak melakukan kontak dengan ISIS.
Pada Selasa, 19 Agustus lalu, kelompok ISIS merilis video berjudul "A Message to America" yang menunjukkan eksekusi mati Foley. Dalam video berdurasi 5 menit itu, ISIS menyatakan Foley (40) dibunuh setelah Presiden Obama memerintahkan serangan udara terhadap ISIS di Irak bagian utara.
Militan ISIS menyebut eksekusi mati Foley sebagai balasan atas serangan udara militer AS. Mereka juga mengancam akan membunuh wartawan AS lainnya, Steven Sotloff, yang ditunjukkan masih dalam keadaan hidup di video tersebut.
Menurut ISIS dalam video tersebut, nyawa Sotloff tergantung pada Obama. ISIS pun mendesak Obama untuk menghentikan aksi militer AS terhadap ISIS di Irak.
(ita/ita)











































