Pasukan Kurdi yang sebelumnya memperjuangkan otonomi daerah untuk sejumlah wilayah Irak, kini turun tangan ikut melawan militan ISIS yang berusaha menguasai lebih banyak wilayah Irak.
Beberapa dari anggota pasukan Kurdi tersebut pernah menjadi saksi mata kekejaman Saddam Hussein pada tahun 1980-an silam, ketika dia memerintah Irak secara otoriter. Puluhan ribu orang tewas selama rezim Saddam Hussein.
"(ISIS) Lebih buruk dari Saddam. Mereka menggunakan teror dan kekacauan untuk memaksa warga melarikan diri. Kemudian mereka akan mengambil alih," tutur Mayor Jenderal Abdulrahmah Kawiri yang merupakan salah satu komandan pasukan Kurdi, seperti dilansir AFP, Rabu (20/8/2014).
Kawiri merupakan salah satu anggota pasukan Kurdi yang juga menjadi korban kediktatoran Saddam Hussein kala itu. Sehingga dia mampu membandingkan situasi saat itu dengan situasi kini terkait keberadaan ISIS.
Sedangkan wakil Kawiri, Mayor Jenderal Sardar Kamal menyebutkan, pengalaman pasukan Kurdi di bawah rezim Saddam Hussein menjadi salah satu alasan untuk bergabung melawan militan ISIS yang merajalela.
"Kami tidak ingin sejarah terulang dengan sendirinya," ujar Kamal sementara pasukannya bersiap istirahat malam sembari mengawal wilayah yang baru saja mereka ambil alih dari militan ISIS, yang posisinya hanya berjarak beberapa puluh meter saja.
Dari kejauhan terlihat kepulan asap dari lokasi serangan udara militer AS, yang dimaksudkan untuk membantu pasukan Kurdi dan militer Irak melawan ISIS.
Kawiri menyebut serangan udara dari AS itu sangat membantu pasukannya. Pasukan Kurdi, menurut Kawiri, memiliki sentimen nasionalisme yang sangat kuat.
"Kami berjuang untuk mempertahankan diri, dan kami meyakini perjuangan kami," tegasnya.
(nvc/ita)











































