Para demonstran melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi, sehingga polisi terpaksa melepas tembakan gas air mata. Namun dilaporkan ada juga demonstran yang membawa senjata api dan melepas tembakan ke arah polisi.
Seperti dilansir AFP, Selasa (19/8/2014), Kapten Ron Johnson dari Patroli Jalan Raya Missouri menuturkan, sedikitnya dua orang luka-luka akibat terkena tembakan yang dilepaskan dari senapan demonstran lain.
Sedangkan, lanjutnya, sebanyak 31 orang lainnya ditangkap. Johnson menegaskan, polisi sama sekali tidak melepas tembakan bersenjata ke arah demonstran.
Lebih lanjut, Johnson mengungkapkan bahwa empat polisi terluka dalam bentrokan yang terjadi di pinggiran Saint Louis. Hal ini semakin memicu kekhawatiran atas perlakuan polisi terhadap kaum minoritas di AS.
Unjuk rasa di Ferguson ini memprotes kematian ABG kulit hitam bernama Michael Brown (18) yang tewas ditembak polisi di siang hari bolong pada 9 Agustus lalu. Polisi yang menembak Brown diketahui seorang polisi kulit putih berusia 28 tahun dan bernama Darren Wilson.
Johnson menjelaskan, unjuk rasa yang berlangsung pada Senin (18/8) waktu setempat awalnya berlangsung damai, tempat beberapa jam setelah Presiden Barack Obama menyerukan agar semua pihak tetap tenang.
Namun tak lama kemudian, sekitar 200 demonstran mulai bergerak mendekati polisi dan sejumlah demonstran mulai menyerang polisi.
"Terdapat situasi berbahaya saat malam. Hal ini membuat sejumlah penghasut bersembunyi di antara kerumunan massa dan berusaha menciptakan kekacauan. Personel kami diserang dengan senjata berat," tuturnya.
Melihat situasi yang mengkhawatirkan, Garda Nasional AS dikerahkan ke wilayah Ferguson. Namun mereka tetap tidak banyak terlibat karena kepolisian setempat masih bisa menangani massa.
(nvc/nrl)











































