Seperti dilansir AFP, Selasa (19/8/2014), militer Ukraina menyebut bahwa para separatis menggunakan persenjataan yang disuplai oleh Rusia untuk menyerang warga dewasa serta anak-anak dalam rombongan berbendera putih yang bergerak meninggalkan kota Lugansk, Ukraina bagian timur.
Juru bicara otoritas keamanan Ukraina, Andriy Lysenko, menyatakan, para separatis dengan sengaja menargetkan warga sipil sebagai sasaran serangan. Padahal, lanjutnya, sudah jelas-jelas mereka memberikan penanda bahwa mereka sipil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan Lysenko, otoritas Ukraina meyakini bahwa rombongan warga sipil tersebut dibombardir dengan mortir dan sistem roket Grad yang disuplai dari Rusia. Situasinya, menurut Lysenko, benar-benar hancur.
"Kami meminta agar video apa pun dari lokasi kejadian, untuk tidak dirilis ke publik, karena itu sangat mengerikan," ucapnya.
Di sisi lain, tudingan ini menuai bantahan dari pemimpin separatis pro-Rusia di Donetsk, yang merupakan wilayah tetangga Lugansk. Menurut Alexander Zakharchenko yang merupakan pemimpin Republik Rakyat Donetsk, sama sekali tidak ada serangan terhadap warga sipil.
Zakharchenko justru menuding balik bahwa tentara Ukraina yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. "Tidak ada satu pun konvoi pengungsi yang ditembaki di wilayah Lugansk," tuturnya kepada wartawan setempat.
(nvc/nrl)











































