Klaim otoritas Rusia soal pengiriman bantuan kemanusiaan untuk Ukraina, mulai menuai kecurigaan. Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius menuding konvoi 280 truk Rusia hanyalah kamuflase untuk serangan mendadak.
"Kita harus sangat berhati-hati karena ini bisa saja menjadi dalih bagi Rusia untuk menempatkan diri mereka di dekat Lugansk dan Donetsk dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," ucap Menlu Fabius kepada radio France Info dan dilansir Reuters, Selasa (12/8/2014).
"Konvoi ini hanya dimungkinan, hanya dibenarkan, jika Palang Merah memberikan izin," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut sumber tersebut, Ukraina mendukung misi internasional yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Eropa bersama dengan Rusia, yang dilakukan di bawah pengawasan Komisi Palang Merah Internasional (ICRC).
"Tidak ada kesepakatan dari pihak Ukraina bagi kendaraan Rusia untuk masuk ke wilayah Ukraina. Pihak Palang Merah Internasional tengah mencari perusahaan transportasi yang akan mengambil alih masalah penyaluran kargo kemanusiaan ke wilayah timur, juga yang dari AS dan Uni Eropa," jelas sumber tersebut.
Sebelumnya kantor berita Rusia, Itar Tass menyatakan bahwa konvoi 280 truk tersebut akan memakan waktu beberapa hari untuk tiba di wilayah Ukraina bagian timur, yang berjarak sekitar 1.000 kilometer. Penyaluran bantuan ini, menurut Rusia, sudah mendapat persetujuan dari Ukraina.
"Ini semua sudah disepakati dengan Ukraina," ujar juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov seperti dikutip radio setempat, Business FM.
Televisi Rusia, Rossiya 24 menyatakan, truk tersebut akan ditemui oleh perwakilan ICRC di Ukraina. Otoritas Rusia menegaskan, bantuan kemanusiaan itu disalurkan bersama-sama dengan pihak ICRC.










































