Amerika Serikat mengevakuasi sejumlah stafnya dari kota Arbil, Irak. Hal ini dilakukan di tengah meningkatnya serangan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di negara tersebut.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Senin (11/8/2014), Departemen Luar Negeri AS mengumumkan kedatangan sejumlah staf dari konsulat jenderal di Arbil. Pengumuman tersebut disampaikan bersamaan dengan travel warning bagi warga AS ke Irak.
Secara terpisah, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Marie Harf membenarkan adanya evakuasi dan pemulangan sejumlah staf AS di Irak. Menurut Harf, langkah ini dilakukan terkait situasi keamanan di Irak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sedangkan kekhawatiran akan situasi keamanan masih cukup tinggi di Irak, tindakan terbatas ini didasari atas besarnya kewaspadaan dibandingkan ancaman yang muncul," ucap Harf.
"Secara keseluruhan, mayoritas personel kami di Arbil tetap tinggal di tempat, dan konsulat kami benar-benar dilengkapi untuk menjalankan misi keamanan nasional," tuturnya.
"Konsulat AS di Arbil tetap buka dan akan terus melayani warga Irak dan pemimpin terpilih mereka setiap harinya -- mendukung mereka sementara mereka memperkuat konstitusional Irak dan mempertahankan diri mereka dari ancaman yang muncul," tandas Harf.
Terhitung sejak Jumat (8/8), AS mulai melancarkan serangan udara yang ditargetkan terhadap fasilitas dan persembunyian militan ISIS, yang beberapa hari terakhir terus berusaha menyerang Arbil. Presiden Barack Obama memberikan izin bagi pesawat-pesawat militer AS untuk melakukan serangan udara di Irak, demi melindungi personel AS yang ada di negara tersebut.
(nvc/ita)











































