Bentrokan terus terjadi di wilayah Ukraina timur yang dikuasai oleh separatis pro-Rusia. Yang terbaru, serangan mortir menewaskan 3 warga sipil dan melukai 5 orang lainnya di wilayah Donetsk.
Serangan mortir menghancurkan tiga blok apartemen dan lima rumah yang ada di distrik Budyonivsky. Demikian seperti disampaikan dewan kota Donetsk dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Kamis (7/8/2014).
Gempuran tersebut juga menghancurkan dua rumah di sebuah desa yang ada di wilayah perbatasan sebelah barat Donetsk. Namun tidak ada laporan korban jiwa dari wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan udara melanda di dekat pusat wilayah Donetsk untuk pertama kalinya pada Rabu (6/8) kemarin. Serangan ini memicu kekhawatiran warga setempat bahwa bentrokan antara separatis pro-Rusia dengan militer Ukraina semakin meluas.
Warga sipil merupakan pihak yang terkena dampak paling parah dalam konflik ini. Dengan data badan pengungsi PBB, UNHCR menyebutkan bahwa lebih dari 285 ribu warga mengungsi dari rumah mereka.
Pada Rabu (6/8), militan Ukraina menyatakan, hanya dalam waktu 24 jam pihaknya kehilangan 18 tentaranya dalam bentrokan dengan separatis pro-Rusia. Jumlah ini merupakan jumlah korban tewas tertinggi dalam beberapa minggu terakhir.
Konflik antara separatis pro-Rusia dengan militer Ukraina telah berlangsung nyaris selama 4 bulan, tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Sejauh ini, lebih dari 1.300 orang tewas dalam perang sipil yang menjadi keprihatinan dunia ini.
Konflik di Ukraina Timur merenggut banyak nyawa ketika sebuah pesawat penumpang milik Malaysia Airlines (MAS) MH17 ditembak jatuh oleh rudal ketika melintasi wilayah Ukraina. Sebanyak 298 penumpang dan awak pesawat tersebut tewas. Hingga kini, belum diketahui pasti pihak yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Yang terbaru, otoritas Belanda yang memimpin tim internasional MH17 menghentikan sementara upaya pencarian jasad korban dengan alasan keamanan. Sebabnya, kondisi keamanan di lokasi kejadian yang ada wilayah Donetsk yang dikuasai separatis pro-Rusia, dilaporkan semakin memburuk dengan meningkatnya bentrokan.
(nvc/ita)











































