Kejadian ini terjadi pada 18 Juli, sehari setelah tragedi MH17 yang ditembak jatuh misil udara di wilayah Ukraina. Pesawat mata-mata Angkatan Udara AS, RC-135 Rivet Joint terbang di wilayah udara internasional di dekat Rusia. Misi pesawat itu, 'menguping' secara elektronik pada militer Rusia.
Rusia lantas melakukan melakukan hal yang tidak biasa, yakni mulai melacak pesawat dengan radar yang berbasis di darat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kru pesawat mata-mata AS kemudian merasa kepepet dan ingin segera keluar dari wilayah udara itu. Rute terdekat untuk melarikan diri adalah ke wilayah udara Swedia, maka segera pesawat diarahkan ke sana.
Namun ternyata, upaya 'lari' ke wilayah udara Swedia ini tanpa seizin atau sepersetujuan militer Swedia. Akhirnya, AS pun mendiskusikan hal ini kepada Swedia, bahwa pesawat mereka harus beralih secepat mungkin yang tak memungkinkannya untuk menunggu untuk meminta izin.
"Kami mengakui pesawat AS berbelok ke wilayah udara Swedia dan akan mengambil langkah-langkah aktif untuk memastikan kami telah berkomunikasi secara pantas dengan pemerintah Swedia di muka untuk mencegah masalah yang sama sebelum mereka muncul," demikian jelas Kementerian Luar Negeri AS.
Insiden pesawat AS masuk ke wilayah udara Swedia tanpa permisi ini pertama kali diungkapkan di media Swedia, DN.se. Pihak Rusia belum menanggapi insiden ini.
Ketegangan militer udara AS dan Rusia ini adalah kejadian kedua. Kejadian pertama adalah pada 23 April 2014 lalu. Saat itu, pesawat tempur Rusia Su-27 Flanker berhadapan dengan jarak 30 meter dari hidung pesawat intai RC-135U milik AS di atas Laut Okhotsk di antara wilayah Rusia dan Jepang. Kedua pesawat nyaris bertabrakan.
Selama ini pesawat AS dan Rusia saling berhadapan satu sama lain, baik di Eropa Utara maupun di wilayah antara Rusia dan Alaska. Namun pejabat militer AS mengatakan bahwa aktivitas radar darat dalam kasus kedua adalah tidak biasa.
(nwk/try)











































