Presiden Barack Obama meningkatkan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat terhadap Rusia terkait agresi atas Ukraina. Namun, Obama menolak anggapan bahwa ketegangan dalam hubungan AS-Rusia ini menandai dimulainya Perang Dingin yang baru.
"Ini bukan Perang Dingin baru," kata Obama kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir Reuters, Rabu (30/7/2014).
"Ini adalah masalah yang sangat spesifik, yang berhubungan dengan keengganan Rusia untuk mengakui bahwa Ukraina dapat memetakan jalannya sendiri," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amerika Serikat dan Uni Eropa, dalam sebuah tindakan yang terkoordinasi dan hati-hati, mengumumkan sasaran sanksi baru terhadap bank-bank Rusia, sektor energi dan perusahaan pertahanan.
Ini adalah respons paling serius dari Barat atas dukungan Rusia yang berkesinambungan untuk pemberontakan separatis di timur Ukraina dan penembakan jatuh pesawat Malaysia Airlines. Obama mengatakan bahwa sanksi ini akan memiliki "dampak yang lebih besar pada perekonomian Rusia dari yang telah kita lihat saat ini" untuk memaksa Moskow menghentikan dukungan terhadap separatis Ukraina.
Senator Republikan Marco Rubio memuji sanksi baru tersebut dan menyuarakan harapan agar Obama, bersama dengan sekutu Eropa, juga akan secara signifikan meningkatkan bantuan, termasuk dukungan militer, kepada pemerintah Ukraina.
"Kelanjutan agresi Rusia terhadap Ukraina tidak bisa terjawab, dan kita perlu melakukan lebih banyak untuk membuat jelas bahwa kita dan seluruh dunia bebas bersama orang-orang Ukraina saat ini," kata Rubio dalam sebuah pernyataan.
(imk/try)











































