"Kami sejak awal telah mengesampingkan kemungkinan serangan dari darat," tegas Menteri Transportasi Prancis Frederic Cuvillier seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (25/7/2014).
Cuvillier juga menekankan, sangat mustahil ada yang selamat dari tragedi pesawat Air Algerie yang jatuh pada Kamis, 24 Juli tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve mengatakan, penyebab paling mungkin atas kecelakaan pesawat ini adalah kondisi cuaca yang buruk.
"Kami pikir pesawat ini jatuh karena alasan yang berkaitan dengan kondisi meteorologi," ujarnya di radio RTL.
Sebelumnya, seorang pejabat setempat di Gossi, Mali mengatakan, pesawat tersebut diduga tersambar petir sebelum jatuh. Dikatakan pejabat tersebut, seperti dilansir Reuters, ada sekelompok penggembala setempat yang menyaksikan langsung jatuhnya pesawat AH 5017. Keterangan saksi mata tersebut telah disampaikan kepada otoritas Burkina Faso.
"Para penggembala tengah berada di semak-semak dan melihat pesawat tersebut jatuh," konselor publik di Gossi, Louis Berthaud kepada Reuters via telepon.
"Pasti terkena badai dan terkena sambaran petir. Mereka mengatakan bahwa pesawat tersebut dalam keadaan terbakar ketika jatuh, sebelum akhirnya meledak," imbuhnya.
Sebelumnya, Jenderal Gilbert Diendere, anggota unit krisis Burkina Faso menuturkan, tim penyelidik telah bergerak ke lokasi untuk memeriksa puing-puing pesawat tersebut. Pesawat ditemukan oleh tim dalam kondisi hangus terbakar.
(ita/ita)










































