Otoritas Belanda mengirimkan 40 polisi tak bersenjata ke lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH17. Pengiriman polisi Belanda ini bertujuan untuk mengamankan lokasi kejadian yang ada di wilayah Ukraina timur, yang dikuasai separatis pro-Rusia.
"Kami tengah memeriksa sarana untuk lebih lanjut menstabilkan area sekitarnya... itu membutuhkan pembahasan internasional, membutuhkan mandat hukum," ujar Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte seperti dilansir AFP, Jumat (25/7/2014).
Muncul kekhawatiran karena selama ini lokasi kejadian tidak diamankan dan belum seluruh 298 jasad korban, yang sebagian besar warga Belanda ditemukan. "Tentu tidak sepenuhnya diyakini bahwa hal ini akan berhasil. Ini sangat kompleks dan membutuhkan banyak mitra," ucap Rutte kepada wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim pendukung yang terdiri atas 23 penyelidik akan dikirim ke lokasi kejadian. Mereka akan didampingi oleh 40 polisi militer tak bersenjata. Menurut Rutte, para polisi tersebut akan bertugas membantu pencarian jasad korban yang masih belum dievakuasi.
Rutte menolak berkomentar terkait isu bahwa Belanda dan Australia tengah menyusun draf resolusi baru untuk Dewan Keamanan PBB, yang isinya mengizinkan tentara atau polisi bersenjata mengamankan lokasi kejadian MH17.
"Kabinet membahas beberapa opsi yang bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih stabil, demi membawa kembali jasad korban yang masih tertinggal," sebut Rutte.
Pesawat MAS MH17 membawa total 298 penumpang dan awak ketika ditembak jatuh saat terbang melintasi wilayah konflik Ukraina timur. Sebagian besar jasad korban telah dievakuasi dari lokasi kejadian dan diserahkan kepada otoritas Belanda yang memimpin penyelidikan internasional MH17. Namun otoritas Belanda hanya bisa memastikan mereka baru menerima 200 jasad korban saja. Diduga kuat masih banyak jasad korban lainnya yang belum dievakuasi.
(nvc/ita)











































