Pesawat maskapai Aljazair, Air Algerie AH 5017 yang jatuh di gurun Mali ditemukan dalam kondisi hangus terbakar. Diduga pesawat yang membawa 116 penumpang dan awak ini terkena sambaran petir hingga terbakar di udara, sebelum akhirnya jatuh.
Seorang pejabat setempat di Gossi, Mali, seperti dilansir Reuters, Jumat (25/7/2014), menyebutkan ada sekelompok penggembala setempat yang menyaksikan langsung jatuhnya pesawat AH 5017. Keterangan saksi mata tersebut telah disampaikan kepada otoritas Burkina Faso.
"Para penggembala tengah berada di semak-semak dan melihat pesawat tersebut jatuh," konselor publik di Gossi, Louis Berthaud kepada Reuters via telepon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Jenderal Gilbert Diendere, anggota unit krisis Burkina Faso menuturkan, tim penyelidik telah bergerak ke lokasi untuk memeriksa puing-puing pesawat tersebut. Pesawat ditemukan oleh tim dalam kondisi hangus terbakar.
"Tim telah mengkonfirmasikan bahwa mereka telah melihat bangkai pesawat, benar-benar terbakar habis dan tersebar di atas tanah," terang Diendere kepada televisi setempat.
Pesawat AH 5017 membawa sedikitnya 116 penumpang dan awak ketika lepas landas dari Ouagadougou, Burkina Faso menuju Aljir, Aljazair pada Kamis (24/7) pagi. Sekitar 50 menit setelah lepas landas, pesawat hilang kontak hingga berjam-jam kemudian ditemukanlah keberadaannya di gurun Mali, yang terletak di antara Burkina Faso dan Aljazair.
Sementara itu, saat ditanya apakah ada dugaan serangan teroris terkait pesawat ini, Menteri Luar Negeri Prancis menyatakan, otoritas setempat meyakini bahwa penyebab kecelakaan ini kemungkinan besar cuaca buruk. Meskipun, lanjutnya, belum ada kesimpulan akhir dari otoritas terkait.
"Kami belum bisa menemukan penyebab kecelakaan yang terjadi," ucapnya kepada wartawan setempat.
Sebagian besar wilayah Mali bagian utara, yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat AH 5017, dikuasai separatis Tuareg, yang terus melawan pemerintah sejak 2012 lalu hingga memicu bentrokan dengan militer setempat. Operasi yang dipimpin Prancis pada awal 2013 berhasil mengurangi kendali separatis atas wilayah tersebut.
Para penumpang pesawat AH 5017 berasal dari banyak negara, antara lain 50 warga Prancis, 24 warga Burkina Faso, 8 warga Libanon, 6 warga Aljazair, 5 warga Kanada, 4 warga Jerman, 2 warga Luksemburg, 1 warga Mali, 1 warga Kamerun, 1 warga Belgia, 1 warga Ukrania, 1 warga Rumania, 1 warga Swiss, 1 warga Nigeria dan 1 warga Mesir.
Sedangkan 6 awak pesawat semuanya berasal dari Spanyol. Pesawat tersebut merupakan milik perusahan swasta Spanyol, Swiftair, namun dioperasikan oleh maskapai Aljazair, Air Algerie.
(nvc/ita)











































