Dewan Keamanan PBB Kecam Penganiayaan Warga Kristen di Irak

Dewan Keamanan PBB Kecam Penganiayaan Warga Kristen di Irak

- detikNews
Selasa, 22 Jul 2014 14:52 WIB
Dewan Keamanan PBB Kecam Penganiayaan Warga Kristen di Irak
Militan ISIL di Mosul (Reuters)
Baghdad -

Dewan Keamanan PBB mengecam penganiayaan warga penganut Kristen dan kelompok minoritas lainnya di Irak. PBB memperingatkan aksi semacam itu sudah tergolong kejahatan terhadap kemanusiaan.

Militan Sunni Islamic State (IS), yang sebelumnya menamakan diri Islamic State of Iraq dan the Levant (ISIL) mengancam keberadaan warga Kristen di wilayah Irak, setelah mendeklarasikan kekhalifahan atas sejumlah wilayah Irak dan Suriah, bulan lalu.

Akhir pekan kemarin, ratusan keluarga penganut Kristen melarikan diri dari kota Mosul, yang merupakan kota terbesar kedua di Irak. Pada Senin (21/7), dalam pernyataan bersama 15 negara anggota Dewan Keamanan menyampaikan kecamannya terhadap tindak penganiayaan kelompok minoritas di Irak tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mengecam secara keras, penganiayaan sistematis individu dari populasi minoritas dan mereka yang menolak ideologi ekstremis di Irak oleh ISIL dan kelompok bersenjata lainnya," demikian pernyataan Dewan Keamanan PBB seperti dilansir AFP, Selasa (22/7/2014).

"Anggota Dewan Keamanan lebih lanjut memperingatkan bahwa setiap serangan sistematis atau meluas terhadap populasi sipil manapun karena latar belakang etnis, agama atau keyakinannya, merupakan bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, di mana pihak-pihak yang bertanggung jawab harus diadili," tegas Dewan Keamanan PBB.

Dalam pernyataannya, Dewan Keamanan PBB juga meminta pemerintah Irak dan PBB untuk lebih mengintensifkan upaya pemenuhi kebutuhan kemanusiaan bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi karena konflik yang kini berlangsung di Irak.

Pemerintah Irak juga diminta menangani ancaman teroris terhadap kelompok minoritas di negara tersebut.

Pada Minggu (20/7) kemarin, militan IS mengambil alih biara Mar Benham dari abad ke-4 di Irak bagian utara, yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah terkenal di negara tersebut. Para biarawan yang ada di dalamnya diusir oleh militan.

Parahnya, IS kemudian mengeluarkan ultimatum bagi warga penganut Kristen untuk berpindah keyakinan dan membayar pajak khusus, atau pergi atau dibunuh. Hal tersebut memaksa warga penganut Kristen yang ada di Mosul untuk meninggalkan rumah masing-masing dan mengungsi.

Sebelum invasi Amerika Serikat di Irak, lebih dari setengah juta warga penganut Kristen tinggal di Irak. Jumlah tersebut termasuk lebih dari 600 ribu warga di Baghdad dan 60 ribu warga di Mosul.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads