Draf resolusi yang diajukan oleh Australia dan didukung oleh sejumlah negara lainnya seperti Prancis, juga menyerukan agar setiap pihak yang ada di wilayah jatuhnya MH17 untuk bekerja secara penuh dalam penyelidikan internasional.
Seperti dilansir AFP, Senin (21/7/2014), draf tersebut juga meminta agar aktivitas militer, termasuk kelompok separatis bersenjata dihentikan sementara agar penyelidikan internasional terhadap tragedi MH17 bisa berlangsung.
"Gencatan senjata dengan segera di area sekitar lokasi kejadian demi menjamin keamanan dan keselamatan penyelidikan internasional," demikian isi salah satu poin dalam draf resolusi tersebut.
Voting terhadap resolusi tersebut akan digelar pada Senin (21/7) sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Rusia sebagai salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB memilki hak veto untuk menolak resolusi tersebut.
Pesawat MAS MH17 yang terbang dari Amsterdam ke Kuala Lumpur pada Kamis (17/7) lalu, diyakini ditembak jatuh rudal darat-ke-udara saat melintasi wilayah udara Ukraina. Total sebanyak 298 penumpang dan awak pesawat tewas dalam insiden tersebut.
Terdapat 28 warga negara Australia dalam pesawat tersebut. Hal inilah yang mendasari Australia untuk mengajukan draf resolusi ke Dewan Keamanan PBB, dengan tujuan mengecam keras tindakan yang memicu tragedi tragis tersebut. Draf resolusi tersebut juga mendorong agar kelompok separatis bersenjata yang menguasai wilayah Ukraina timur, yang menjadi lokasi jatuhnya MH17, tidak mengganggu maupun mengobrak-abrik lokasi kejadian.
(nvc/ita)











































