Pemerintah Australia masih geram atas sikap pemerintah Rusia menyusul jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di dekat perbatasan Rusia-Ukraina. Sebabnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menolak berbicara dengan Menlu Australia Julie Bishop yang menghubunginya via telepon tak lama setelah kejadian tragis pada Kamis, 17 Juli itu.
Perdana Menteri (PM) Australia Tony Abbott mencetuskan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/7/2014), respons awal Rusia tersebut sangat tidak memuaskan.
Sebelumnya, Bishop mengatakan pada media ABC, bahwa Menlu Lavrov menolak berbicara dengan dirinya mengenai tragedi MH17. Saat ingin bicara dengan Lavrov, Bishop diberitahu kalau Lavrov sedang berlibur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bishop pun menyerukan Rusia untuk sejalan dengan komunitas global dan mendukung penyelidikan segera atas jatuhnya MH17.
"Kita memerlukan penyelidikan internasional yang segera, cepat," tegas Bishop setelah Dewan Keamanan PBB mengeluarkan statemen tentang perlunya penyelidikan internasional yang menyeluruh, mendalam dan independen.
Pesawat Boeing 777 yang mengangkut 298 orang, termasuk 28 warga Australia itu, jatuh di kawasan Ukraina timur yang dikuasai para separatis pro-Rusia pada Kamis, 17 Juli lalu. Pejabat-pejabat Amerika Serikat meyakini pesawat tersebut ditembak jatuh dengan sebuah rudal darat-ke-udara.
PM Abbott mengatakan, bencana ini adalah kejahatan, bukan kecelakaan. Abbott pun menegaskan, Australia akan melakukan apapun untuk menyeret para pelaku tragedi MH17 ke pengadilan. Dikatakannya, penyelidikan internasional atas peristiwa ini perlu dimulai secepat mungkin.
"Australia akan melakukan apapun yang bisa kami lakukan sebagai manusia untuk memastikan masalah ini benar-benar diselidiki secara menyeluruh," tegas Abbott kepada para wartawan di Canberra, Australia.
(ita/ita)










































