Kepada media AS, CNN, Jumat (18/7/2014), pejabat AS yang tidak disebut namanya tersebut menyebutkan, sistem pertahanan udara canggih Ukraina ada di lokasi lainnya.
Dalam laporannya, CNN menyebut, informasi pejabat AS ini semakin meruncing pada kesimpulan bahwa Ukraina tidak memiliki kemampuan untuk menembak jatuh MAS MH17. Menurut CNN, motif Ukraina untuk menembak jatuh pesawat tersebut juga tidak kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut informasi Kementerian Pertahanan Rusia, unit Angkatan Bersenjata Ukraina yang berada di lokasi kejadian diperlengkapi dengan sistem rudal antipesawat Buk-M1. Ini menunjukkan karakteristik teknis dan taktis mereka yang mampu mendeteksi target di udara dalam jangkauan mulai dari 160 kilometer dan menembak mereka pada jangkauan penuh hingga lebih dari 30 kilometer," demikian keterangan Kementerian Pertahanan Rusia seperti dikutip oleh media setempat, RIA Novosti.
RT juga mengutip pembelaan dari perwakilan separatis pro-Rusia, atau yang menyebut dirinya Republik Rakyat Donetsk. Perwakilan separatis pro-Rusia menuding militer Ukraina yang menembak jatuh MH17.
"Kami tidak memiliki sistem pertahanan udara seperti itu. Sistem pertahanan udara kami bersifat man-portable mampu menembak sejauh 3 ribu hingga 4 ribu meter. Pesawat Boeing terbang pada ketinggian yang lebih tinggi dari itu," ucap perwakilan khusus untuk Perdana Menteri Republik Rakyat Donetsk, Sergey Kavtaradze.
Kavtaradze bahkan menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban tragedi MH17.
Sistem pertahanan udara canggih yang dimaksud ialah sistem rudal Buk SA-11 yang bersifat rudal darat-ke-udara dan mampu menyerang target pada ketinggian lebih dari 30 kaki atau setara 10 ribu meter di udara. Ketiga pihak yakni Rusia, Ukraina, dan separatis pro-Rusia sama-sama memiliki rudal buatan era-Soviet tersebut.
Terlepas dari tragedi MAS MH17 ini, hubungan AS dengan Rusia memang sudah lama tegang, terutama pasca krisis Ukraina melanda. Semenjak pencaplokan Crimea yang tadinya wilayah Ukraina, masuk menjadi wilayah Rusia, AS terus mengintensifkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Hal ini memicu kemarahan Rusia terhadap AS. Di sisi lain, AS yang berada di belakang Ukraina mendorong Rusia untuk tidak lagi ikut campur dalam aktivitas separatis di Ukraina bagian timur. Namun Rusia membantah turut campur, meskipun AS meyakini secara diam-diam Rusia menyuplai senjata dan pasukan kepada separatis di Ukraina bagian timur.
(nvc/nrl)











































