Niat Charles Eliza David Tamtelahitu menghadiri pemakaman ibunya di Indonesia urung terlaksana. Pria 63 tahun itu menjadi salah satu korban pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh di timur Ukraina.
"Keluarga kami mendengar kabarnya tadi malam," kata Errol Lekatompessy, sepupu Charles, kepada wartawan di ruang VIP D rumah persemayaman Adi Jasa, Jalan Demak, Surabaya, Jumat (18/7/2014).
Errol mengatakan, Charles adalah anak dari pasangan Yunus David Lekatompessy dan Augustine Hermelina Lekatompessy. Selain Charles, pasangan itu juga mempunyai seorang anak lagi yakni Theo Lekatompessy yang merupakan adik Charles. Yunus David sudah meninggal. Sementara Theo sekarang menjabat sebagai dirut PT Humpuss Intermoda Transportasi (HIT) Tbk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Charles sendiri bukanlah seorang WNI. Charles sudah lama menjadi warga negara Belanda yaitu sejak umur 10 tahun saat ia dibawa dan diasuh neneknya yang juga warga negara sana.
Di Belanda, Charles menikah dengan warga negara Belanda dan mempunyai dua anak bernama Jahja Julius David Tamtelahitu dan Naomi Jantina Augustina Tamtelahitu
"Charles terakhir ke Indonesi pada 2013 lalu," ujar Errol.
Sebelumnya di tahun 2012, Charles juga sempat datang ke Indonesia untuk melepas kangen dengan keluarganya di Indonesia, khususnya dengan ibunya yang bertempat tinggal di Jalan Manyar Kertiarjo VII. Selama 3 minggu, Charles menghabiskan waktunya di Indonesia.
Pada 2013, Augustine kangen dengan Charles. Untuk menuruti keinginan ibunya, Charles mengutus anaknya Naomi untuk menjemput neneknya. Augustine pun terbang ke Belanda.
"Saat balik, Charles sendiri yang mengantarkan ibunya. Itu terakhir kalinya kami bertemu dengan Charles," tandas Errol.
Suasana duka pun sangat terasa di ruang persemayaman tersebut. Hawa dingin AC menambah kesan duka tersebut, terlebih bagi keluarga besar Augustine. Mereka yang sudah berduka atas kematian Augustine, kini lebih berduka lagi karena anak pertamanya juga meninggal setelah menjadi korban tragedi MH17.
Salah satu pejabat Pemkot Surabaya yang sempat mengunjugi rumah persemayaman adalah Chandra Oratmangun, Kepala Dinas PMK Kota Surabaya. Chandra mengaku mengenal Augustine karena mereka sama-sama menjadi anggota perkumpulan Komite Perekat Persaudaraan Maluku (KPPM) Surabaya.
"Saya kenal ibu Augutine di KPPM. Orangnya baik. Kalau sama pak Charles, saya tidak kenal," ujar Chandra.
(iwd/rna)











































