Obama telah berbicara via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin khusus membahas tragedi MAS MH17 ini. Dalam pembicaraan tersebut, yang diinisiasi oleh Rusia, Presiden Putin menginformasikan kepada Obama soal jatuhnya MH17.
"Saya bisa memastikan bahwa Presiden Putin pagi ini menelepon Presiden Obama, menekankan laporan awal pesawat jet jatuh dekat perbatasan Rusia-Ukraina," terang juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, seperti dilansir Reuters, Jumat (18/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya telah mengarahkan tim keamanan nasional untuk tetap berkomunikasi dengan pemerintah Ukraina. AS menawarkan bantuan apapun yang kami bisa untuk membantu mencari tahu apa yang terjadi dan kenapa," ucap Obama.
Obama juga telah menghubungi Presiden Ukraina Petro Poroshenko untuk menawarkan bantuan dalam investigasi. Lebih lanjut, Obama menekankan, bukti-bukti dari lokasi kecelakaan harus tetap ada di Ukraina agar tim penyelidik internasional bisa memeriksa langsung lokasi kejadian.
Menurut Gedung Putih, Obama menelepon PM Malaysia Najib Razak dan PM Belanda Mark Rutte menyampaikan bela sungkawa dan menawarkan bantuan. "AS bersiap memberikan kontribusi segera untuk mendukung penyelidikan internasional yang segera, tepat, penuh, kredibel dan tanpa hambatan," tegas Gedung Putih.
Sementara itu, seorang pejabat Ukraina, seperti dilansir Reuters, menyebutkan bahwa ada 23 warga negara AS di dalam pesawat MAS MH17 tersebut. Namun informasi ini belum bisa dikonfirmasi, termasuk oleh otoritas AS sendiri.
Pernyataan resmi pihak maskapai MAS menyebutkan ada total 298 orang di dalam pesawat tersebut. Rinciannya, yakni 154 warga Belanda, 43 warga Malaysia termasuk 15 awak dan 2 bayi, kemudian 27 warga Australia, 12 warga Indonesia termasuk 1 bayi, 9 warga Inggris, 4 warga Jerman, 4 warga Belgia, 3 warga Filipina, 1 warga Kanada, serta 41 orang yang belum terverifikasi kewarganegaraannya.
(nvc/mad)











































