Seperti dilansir AFP, Selasa (15/7/2014), proposal gencatan senjata tersebut diajukan Mesir pada Senin (14/7) malam. Dalam proposal tersebut, disebutkan bahwa gencatan senjata antara Israel dengan Hamas mulai terhitung mulai Selasa (15/7) pukul 06.00 GMT.
Kemudian akan dilanjutkan dengan perundingan terkait alur suplai barang untuk masuk ke dalam wilayah Jalur Gaza yang selama ini diblokade Israel. Media nasional Mesir menyatakan, Menlu AS John Kerry akan langsung datang ke Mesir untuk mendorong langsung gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang terlibat aksi saling serangan selama 7 hari terakhir.
"Pukul 06.00 GMT telah ditetapkan sebagai awal dari penerapan pengaturan gencatan senjata antara kedua pihak," demikian bunyi proposal tersebut.
Menanggapi proposal tersebut, Israel menyatakan pihaknya akan menggelar rapat kabinet untuk membahasnya secara khsus. Seorang pejabat senior Mesir menuturkan, rapat kabinet akan digelar pada Selasa (15/7) pagi waktu setempat.
"Jajaran keamanan pada kabinet akan bertemu dalam rapat besok pagi (1/7) untuk mempelajari dengan serius proposal Mesir," tutur pejabat Mesir yang enggan disebut namanya, kepada AFP.
Sementara itu pihak Hamas menyatakan upaya menuju gencatan senjata terus berlangsung. Namun, tegas Hamas, belum ada kesepakatan yang dicapai untuk bisa menerapkan gencatan senjata.
Mesir memainkan peranan penting dalam menengahi gencatan senjata dalam pertempuran Israel dengan Hamas di masa lalu. Pada tahun 2012 lalu, tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang ditengahi oleh mantan Menlu AS Hillary Clinton serta otoritas Mesir. Kesepakatan tersebut mengakhiri serangan udara Israel terhadap target Hamas di wilayah Palestina selama 8 hari berturut-turut. (nvc/mpr)











































