Israel masih terus melancarkan serangan udara ke Gaza. Intensitas serangan yang cukup tinggi menyulitkan pergerakan tim medis wilayah setempat.
"Rata-rata 10 bom per jam menyebabkan tim Medecins Sans Frontieres atau Dokter Lintas Batas (MSF) nyaris tidak bisa melanjutkan aktivitas medis rutinnya dan bergerak untuk mengevaluasi di mana saja kebutuhan yang paling darurat," kata Kepala Misi MSF di wilayah Palestina, Tommaso Fabbir, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Senin (14/7/2014).
Beberapa fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit Eropa, telah rusak karena serangan yang terjadi di dekat bangunan tersebut. Jalanan di Gaza kosong karena warga hanya keluar rumah apabila ada keperluan mendesak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tommaso, sekitar 900 orang yang kehilangan harta benda kini ditampung oleh saudara dan teman mereka. Saat ini 50% ambulans yang dapat beroperasi karena minimnya bahan bakar yang tersedia.
βSejak sebelum operasi militer Protective Edge Israel, rumah sakit di Gaza sudah menderita akibat kekurangan obat-obatan dan persediaan. Jadi, krisis saat ini melemahkan sistem yang sudah genting situasinya,β kata Koordinator Proyek MSF, Nicolas Palarus.
Pada Kamis (10/7) lalu, menurutnya ada 12 pasien yang tinggal di dekat klinik pasca bedah MSF datang ke klinik untuk mendapatkan perawatan. "Namun, sebagian besar pasien rutin lainnya tinggal di bagian selatan jalur Gaza, dan tim kami belum dapat menjangkau mereka," ujarnya.
Listrik hanya menyala 5-8 jam setiap harinya. Penduduk kekurangan air dan kesulitan mendapat kebutuhan dasar. "Kehidupan penduduk sehari-hari di sini bagaikan hidup di dalam kepungan,β katanya.
Tommaso mengatakan, perbatasan Rafah yang terletak di antara Gaza dan Mesir, telah dibuka beberapa kali untuk alasan-alasan tertentu. Pada hari Kamis, sebelas pasien ditransfer ke Mesir dan empat pasien lain menyeberang pada hari Sabtu.
"Tampaknya, hanya mereka yang memiliki paspor internasional yang diperbolehkan melintasi perbatasan," ujarnya.
Tim medis yang berasal dari beberapa negara Arab menunggu untuk bisa memasuki Gaza. Namun hingga saat ini belum berhasil. Menurutnya, yang paling penting saat ini adalah proses evakuasi korban ke lokasi yang lebih aman.
"Mereka yang sakit dan terluka harus bisa dievakuasi melalui perbatasan Rafah dan Erez, dan tim medis serta konvoi kemanusiaan harus diizinkan masuk. Ini adalah kewajiban hukum bagi Mesir dan Israel, dan sangat penting bagi penduduk di Gaza," tutup Tomasso.
(kff/nrl)











































