Menlu Negara Liga Arab Gelar Rapat Darurat Bahas Konflik Gaza

Gaza Membara

Menlu Negara Liga Arab Gelar Rapat Darurat Bahas Konflik Gaza

- detikNews
Sabtu, 12 Jul 2014 17:50 WIB
Menlu Negara Liga Arab Gelar Rapat Darurat Bahas Konflik Gaza
Serangan roket dari Gaza yang jatuh di Ashdod Israel (Reuters)
Kairo - Aksi saling serang antara Israel dengan Hamas di Gaza semakin meluas. Para Menteri Luar Negeri negara-negara Arab akan bertemu di Kairo, Mesir untuk membahas semakin parahnya konflik tersebut.

Kuwait yang memegang kepemimpinan bergilir Liga Arab yang bermarkas di Kairo, Mesir ini meminta digelarnya rapat darurat terkait konflik Gaza. Rapat ini akan dihadiri seluruh negara anggota Liga Arab dan dijadwalkan akan digelar pada Senin (14/7) mendatang. Demikian seperti disampaikan seorang diplomat Liga Arab dan dilansir AFP, Sabtu (12/7/2014).

Belum ada koordinasi resmi dari negara-negara Arab terhadap konflik yang pecah semenjak Selasa (8/7), ketika Israel meluncurkan Operation Protective Edge yang ditandai dengan serangan udara ke Gaza. Israel mengklaim operasi militer tersebut bertujuan untuk menghentikan serangan roket Hamas ke wilayahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini, gempuran udara Israel di wilayah Gaza terus berlanjut, tanpa henti. Gempuran ini menuai serangan balasan dari Hamas, yang meluncurkan roket ke wilayah Israel.

Seruan gencatan senjata muncul dari banyak pihak, termasuk Amerika Serikat dan PBB, namun tidak ada yang bersedia menghentikan aksinya. Israel bersikeras bahwa pihaknya tidak akan berhenti sebelum serangan roket dari Hamas berhenti.

Namun di sisi lain, Hamas juga enggan menghentikan serangannya, dengan alasan Israel terlebih dulu yang harus berhenti karena negara Yahudi itu yang menurut Hamas, memulai serangan. Hal inilah yang dikeluhkan oleh otoritas Mesir yang merupakan negara tetangga kedua pihak.

Mesir memainkan peranan penting dalam menengahi gencatan senjata dalam pertempuran Israel dengan Hamas di masa lalu. Pada tahun 2012 lalu, tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang ditengahi oleh mantan Menlu AS Hillary Clinton serta otoritas Mesir. Kesepakatan tersebut mengakhiri serangan udara Israel terhadap target Hamas di wilayah Palestina selama 8 hari berturut-turut.

Namun dalam konflik kali ini, otoritas Mesir mengisyaratkan lepas tangan. Kementerian Luar Negeri Mesir menuturkan, pihaknya menemukan kesulitan dalam menengahi konflik antara Israel dan Hamas, karena keduanya sama-sama keras kepala.

Sejauh ini, konflik Gaza telah merenggut lebih dari 100 nyawa, yang sebagian besar merupakan warga sipil Palestina di Gaza. Meskipun Hamas juga meluncurkan roket ke Israel, namun belum ada laporan korban jiwa dari pihak negeri Yahudi tersebut.

(nvc/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads