Kementerian Pertahanan Ukraina menuturkan, jumlah korban tewas tersebut termasuk 19 tentara yang tewas dalam serangan roket jenis Grad, yang diyakini milik pemberontak pro-Rusia dan disuplai oleh Rusia. Otoritas Ukraina menyatakan pihaknya terus mengintensifkan serangan di wilayah timur.
"Kelompok pemberontak akan membayar setiap nyawa dari tentara kami dengan puluhan dan ratusan nyawa kelompok mereka," tegas Presiden Ukraina Petro Poroshenko dalam rapat darurat keamanan, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/7/2014).
"Tidak satupun teroris yang akan menghindari tanggung jawab mereka. Setiap masing-masing dari mereka akan menghadapi kehancuran mereka," imbuhnya.
Sebanyak 93 tentara Ukraina lainnya luka-luka akibat serangan pemberontak pro-Rusia tersebut. Sedangkan jumlah tentara yang tewas dalam insiden hari Jumat (11/7) tersebut merupakan jumlah terbanyak semenjak gencatan senjata antara Ukraina dengan pemberontak dicabut pada 1 Juli lalu.
Dalam operasi militernya di Ukraina timur demi mengusir separatis pro-Rusia dari wilayahnya, militer Ukraina akhir-akhir ini sedikit unggul. Tentara pemerintah mampu memukul mundur separatis dari wilayah Slaviansk akhir pekan lalu.Meskipun separatis yang bersenjata lengkap tetap menguasai Donetsk, kota dengan penduduk 900 ribu jiwa dan masih aktif melancarkan serangan di Luhansk, dekat perbatasan Rusia.
Terpacu dengan kesuksesan memukul mundur pemberontak di Slaviansk, Presiden Ukraina Petro Poroshenko terus menekan separatis pro-Rusia dengan menggencarkan operasi militer di wilayah-wilayah yang dikuasai mereka. Pemerintah Ukraina meyakini separatis di wilayah timur mendapat bantuan Rusia, meskipun mereka mengklaim merekrut anggota baru dari warga setempat.
Tujuan operasi militer Ukraina ini, menurut Presiden Poroshenko, untuk 'membebaskan' Donetsk dan Luhansk yang dalam beberapa bulan terakhir dikuasai separatis. Dilaporkan, separatis pro-Rusia masih menduduki sejumlah gedung penting di kedua kota tersebut.
(nvc/ndr)











































