Kejahatan keji tersebut dilaporkan terjadi di dalam rangkaian kereta malam yang ramai penumpang. Kasus ini memicu kemarahan publik, terutama yang dilontarkan via media sosial. Bahkan Direktur Lembaga Perkeretaapian Thailand didesak mundur.
Atas kasus ini, kepolisian setempat telah menangkap seorang pemuda berusia 22 tahun yang merupakan tukang bersih-bersih kereta. Pelaku dijerat dakwaan pemerkosaan dan pembunuhan. Demikian seperti dilansir Reuters, Rabu (9/7/2014).
Juru bicara kepolisian setempat dalam pernyataannya menyebutkan, pelaku telah mengakui perbuatannya. Dia sempat mengkonsumsi narkoba sebelum melakukan tindakan bejatnya terhadap korban dan melemparkan jasad korban keluar dari kereta.
Hukuman bagi tindak pemerkosaan di Thailand beragam, mulai dari hukuman denda mencapai 40 ribu baht (Rp 14 juta) hingga hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. Namun sayangnya, aturan khusus soal pemerkosaan jarang diterapkan di negara tersebut.
"Mungkin lebih banyak rakyat Thailand yang melihat hukuman lebih berat sebagai satu-satunya jawaban, tapi kaum minoritas yang kuat menentangnya," tutur seorang pengguna Twitter di Thailand mengomentari hal tersebut.
Kelompok tersebut menyerukan akan menggelar aksi protes di kawasan pusat perbelanjaan Siam Paragon di Bangkok.
Padahal di bawah aturan darurat militer yang kini berlaku di Thailand, aktivitas pengumpulan massa yang terdiri atas lebih dari 5 orang dilarang. Pemerintah junta militer Thailand memperingatkan akan aturan ini.
"Negara sedang dalam masa sensitif, jadi kami tidak begitu menginginkan rakyat untuk berkumpul di depan umum, tapi ini bergantung pada tujuannya dan bagaimana mereka berunjuk rasa," tutur juru bicara pemerintah junta militer, National Council for Peace and Order, Winthai Suvaree.
(nvc/ita)











































