Sejumlah ibu-ibu yang ada di kamp pencari suaka di Australia dilaporkan melakukan upaya bunuh diri massal. Hal ini dilakukan agar anak-anak mereka bisa tinggal di Australia.
Seperti dilaporkan media setempat, Sydney Morning Herald dan dilansir AFP, Rabu (9/7/2014), sejumlah wanita pencari suaka yang kini ditampung di Christmas Island berupaya mengakhiri nyawa mereka, setelah diberitahu bahwa mereka akan dibawa ke Papua Nugini atau Nauru.
Wanita-wanita yang tidak diketahui pasti kewarganegaraannya tersebut, mencoba bunuh diri dengan gantung diri atau memotong urat nadi mereka dengan pecahan kaca. Mereka meyakini, jika mereka mati maka anak-anak mereka akan mendapat kesempatan lebih besar untuk tinggal di Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan ini disampaikan Sydney Morning Herald dengan mengutip tiga sumber independen, termasuk salah satunya pengacara setempat bernama Jacob Varghese yang mewakili 72 bayi pencari suaka di Australia.
Menanggapi laporan ini, Perdana Menteri Tony Abbott menyebut klaim bunuh diri yang terjadi di Christmas Island sebagai insiden mengerikan. Namun dia menyatakan bahwa pemerintahannya tidak akan tersandera oleh aksi semacam itu.
"Ini tidak akan menjadikan pemerintah yang kebijakannya dikendalikan oleh orang-orang yang berusaha menahan kami dengan aksi moral seperti ini. Kami tidak akan dikendalikan oleh hal semacam ini," ucap PM Abbott kepada media setempat, Channel Nine.
"Faktanya adalah, bahwa orang-orang yang ada di Nauru -- mereka berpakaian, memiliki rumah, mendapat makanan dan di atas segalanya, mereka aman. Mereka tidak akan diadili di Nauru. Sekarang, saya tidak percaya jika orang-orang ini mampu mengatakan kepada kami, 'Kecuali Anda menerima saya sebagai warga pemanen, saya akan melukai diri saya sendiri'," imbuhnya.
"Saya tidak yakin jika warga Australia menginginkan kami menyerah pada bentuk pemerasan moral ini," tandas Abbott.
(nvc/ita)











































