Badan urusan anak PBB, UNICEF menyatakan, jumlah anak-anak yang membutuhkan bantuan tersebut meningkat hingga sepertiga dalam satu tahun ini.
Menurut UNICEF seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (5/7/2014), sekitar 6,6 juta bocah di Suriah kini membutuhkan bantuan. Angka ini telah melonjak hingga sepertiga atau sekitar dua juta sejak Juni 2013 lalu.
"Itu angka yang mengherankan dan angka yang meningkat sangat, sangat cepat," ujar juru bicara UNICEF Simon Ingram kepada para wartawan di Jenewa, Swiss.
Dikatakan Ingram, UNICEF sejauh ini baru menerima 37 persen dari dana US$ 770 juta yang diperlukan untuk membiayai layanan-layanan UNICEF hingga akhir tahun ini bagi anak-anak Suriah di dalam negeri, juga bagi mereka yang tinggal sebagai pengungsi di negara-negara tetangga.
"Sebenarnya ada risiko yang sangat nyata sebagai akibat dari krisis pendanaan ini dan jika dana itu tak juga masuk, kami akan terpaksa menghentikan sejumlah layanan penting yang kami berikan," cetus Ingram.
Salah satu layanan penting yang terancam dihentikan karena ketiadaan dana adalah layanan air minum dan sanitasi di Irak, Libanon, Yordania. Ketiga negara tersebut, selain Turki, menampung banyak pengungsi Suriah.
Sejak konflik Suriah pecah pada Maret 2011 silam, lebih dari 162 ribu orang telah tewas. Jutaan orang pun telah kehilangan tempat tinggal di negeri yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad itu. Menurut data PBB, secara keseluruhan, sekitar 10,9 juta warga Suriah -- nyaris separuh dari total populasi 22 juta jiwa -- saat ini sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
(ita/ita)











































