Telepon Kanselir Jerman, Obama Konsultasi Soal Krisis Ukraina

Telepon Kanselir Jerman, Obama Konsultasi Soal Krisis Ukraina

- detikNews
Jumat, 04 Jul 2014 12:40 WIB
Telepon Kanselir Jerman, Obama Konsultasi Soal Krisis Ukraina
Barack Obama (AFP)
Washington -

Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkonsultasi dengan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk membahas krisis Ukraina. Kedua pemimpin negara ini sepakat untuk tetap memberikan tekanan terhadap Rusia demi menyelesaikan krisis di Ukraina.

AS dan Uni Eropa telah mengancam untuk meningkatkan sanksi bagi perekonomian Rusia, kecuali otoritas Rusia mampu mengendalikan separatis pro-Rusia yang ada di Ukraina timur, yang terus menggencarkan perlawanan terhadap otoritas Ukraina.

Namun Rusia membantah bahwa pihaknya mendukung separatis tersebut. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (4/7/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pernyataannya, Gedung Putih menyebutkan bahwa Obama menelepon langsung Merkel untuk membahas persoalan Ukraina tersebut. Keduanya sama-sama menyatakan dukungan mereka untuk upaya diplomatik dalam mengatur gencatan senjata baru di wilayah Ukraina timur.

"Mereka menekankan bahwa Rusia harus segera melakukan tindakan untuk mengurangi konflik di Ukraina timur. Presiden dan Kanselir sepakat bahwa AS dan Eropa harus melakukan koordinasi lebih lanjut untuk memberikan sanksi pada Rusia jika negara tersebut tidak melakukan langkah untuk mengurangi konflik dalam waktu singkat," demikian pernyataan Gedung Putih.

Awal pekan ini, Presiden Ukraina Petro Poroshenko memutuskan untuk tidak memperpanjang gencatan senjata dengan separatis pro-Rusia. Poroshenko memilih untuk melanjutkan operasi militer terhadap para pemberontak di wilayah Ukraina timur.

Pengumuman ini bisa memicu eskalasi tajam dalam konflik di Ukraina timur yang telah berlangsung berbulan-bulan. Ini menunjukkan kegagalan upaya diplomatik yang dipimpin oleh Prancis dan Jerman untuk meyakinkan pemerintahan Kiev agar memperpanjang gencatan senjata tersebut.

Selama gencatan senjata yang berlangsung 10 hari tersebut, pertempuran antara pasukan Ukraina dan para pemberontak pro-Rusia terus terjadi.

(nvc/ita)


Berita Terkait