Meski telah dibubarkan oleh pemerintah Mesir, kelompok Ikhwanul Muslimin tetap menggelar aksi. Yang terbaru, Ikwanul Muslimin menyerukan demo 'hari kemarahan' untuk memperingati satu tahun penggulingan presiden Mohamed Morsi oleh militer.
Sebagai antisipasi dari seruan ini, kepolisian setempat menutup sejumlah alun-alun utama yang ada di Kairo, yang rawan dijadikan lokasi unjuk rasa. Kemudian kepolisian setempat juga meningkatkan pengamanan. Demikian seperti dilansir AFP, Kamis (3/7/2014).
Ikhwanul Muslimin yang merupakan pendukung utama Morsi telah dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris oleh pemerintah Mesir. Setelah Morsi digulingkan, sebagian besar pemimpin Ikhwanul Muslimin ditangkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unjuk rasa yang digelar Kamis (3/7) waktu setempat ini dilihat sebagai ujian bagi kekuatan Islamis di negara tersebut. Dengan Aliansi Antikudeta yang juga dipimpin oleh elemen Ikhwanul Muslimin, menyerukan unjuk rasa agresif dengan tema 'hari kemarahan' untuk memperingati penggulingan Morsi.
Setelah pemerintah Mesir mengerahkan operasi besar-besaran untuk memberantas elemen Ikhwanul Muslimin, sisa-sisa elemen mereka tetap bersikeras melanjutkan unjuk rasa. Mereka berharap untuk membuat Mesir menjadi negara yang tidak bisa diatur oleh Al-Sisi sebagai presiden yang baru.
"Mari kita ubah perlawanan revolusioner kita menjadi kekuatan yang luar biasa," demikian pernyataan Aliasnsi Antikudeta yang menyerukan unjuk rasa tersebut.
Semenjak Morsi digulingkan pada 3 Juli 2013 lalu, sedikitnya 1.400 orang tewas dalam bentrokan antara pendukung Morsi dengan aparat Mesir. Lebih dari 15 ribu orang ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
(nvc/ita)











































