Gil-Ad Shaer (16), Naftali Fraenkel (16) dan Eyal Yifrah (19) dimakamkan bersama di kota Modi'in pada Selasa (1/7) waktu setempat. Pemakaman ketiga remaja ini diikuti oleh puluhan ribu orang yang berasal dari banyak wilayah di Israel dan bersimpati terhadap mereka.
"Saya tahu rasa sakitnya berkabung. Tidak ada yang lebih buruk dari itu," ujar PM Netanyahu saat berdiri di hadapan tiga jenazah remaja tersebut yang hanya diselimuti bendera Israel, seperti dilansir AFP, Rabu (2/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Israel telah bersumpah bahwa Hamas akan membayar atas kematian tiga remaja ini. Namun dalam upacara pemakaman ini, sama sekali tidak muncul seruan balas dendam atau pertumpahan darah.
"Saya sempat berbicara denganmu sebelum kamu keluar rumah. Saya mendengar suaramu yang penuh damai dan rasa cinta... dan sekarang kamu pulang ke rumah," tutur ayah Gil-Ad, Ofir Shaer dengan suara penuh emosi.
"Sekarang Ibu dan saya menghadapi tantangan terbesar dalam hidup kami," imbuhnya.
"Beristirahatlah dalam damai, anakku," timpal ibunda Naftali, Rachel Fraenkel.
Jasad ketiga remaja tersebut ditemukan di sebuah lapangan yang ada di wilayah Tepi Barat, pada Senin (30/6) kemarin. Pada tubuh ketiganya ditemukan luka tembak. Israel semakin berkeyakinan bahwa Hamas bertanggung jawab atas kasus ini.
Kisah tiga remaja ini telah menjadi perhatian publik luas, tidak hanya di Israel tapi juga dunia internasional. Ketika ketiganya masih dinyatakan hilang, ribuan orang menggelar doa massal, mulai dari Western Wall di Old City hingga ke Tel Aviv.
"Ini secara spontan telah menjadi hari berkabung nasional," ucap PM Netanyahu di hadapan pelayat yang hadir.
(nvc/jor)










































