Usulan tersebut dilontarkan oleh lembaga tinggi militer Korut, Komisi Pertahanan Nasional seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA) dan dilansir AFP, Senin (30/6/2014).
Disebutkan dalam usulan tersebut, Korut siap untuk menghentikan semua aksi provokasi verbal terhitung sejak Jumat (4/7) mendatang. Korut juga mendesak Korsel untuk melakukan hal yang sama.
Korut juga menyerukan penghentian latihan militer dan juga aktivitas militer lainya yang mengambil tempat di dekat perbatasan di Laut Kuning yang menjadi sengketa.
Perbatasan laut merupakan area yang sering menjadi lokasi bentrokan kedua negara di Semenanjung Korea ini. Meskipun belum ada bentrokan militer secara langsung antara kedua negara sejak tahun 2010, namun kedua pihak terlibat aksi saling melepaskan tembakan peringatan di area tersebut.
Tidak hanya itu, Korut juga mendesak Korsel untuk menghentikan latihan militer gabungan dengan AS yang digelar setiap tahun. Menurutnya, hal ini demi menciptakan suasana kondusif bagi pelaksanaan Asian Games di Incheon, Korsel tahun ini. Korut menjanjikan akan mengirimkan delegasi atlet ke Asian Games yang akan digelar pada 19 September hingga 4 Oktober mendatang.
Seruan Korut ini muncul setelah negara ini kembali menjadi sorotan internasional karena melakukan uji coba nuklir, yang merupakan uji coba nuklir kedua dalam beberapa hari terakhir. Kedua uji coba nuklir itu digelar menjelang kunjungan Presiden China Xi Jingping ke Korsel.
Dalam lawatan pada 3-4 Juli mendatang tersebut, Xi akan melakukan pertemuan dengan Presiden Korsel Park Geun-Hye. Keduanya diyakini akan membahas tentang senjata nuklir Korut.
Menanggapi agenda tersebut, Korut melalui KCNA pun mengejek upaya-upaya internasional untuk menghentikan ambisi nuklir Korut. KCNA menyebut upaya tersebut sebagai "fantasi bodoh."
(nvc/ita)











































