Otoritas setempat menuturkan, setiap tahunnya puluhan pemuda tewas dan sejumlah lainnya kehilangan alat kelaminnya ketika mejalani sunat yang dilakukan oleh ahli medis lokal. Demikian seperti dilansir AFP, Jumat (27/6/2014).
Ritual upacara sunat tradisional yang berujung maut ini dimulai pada akhir Mei lalu. Para remaja dan pemuda dari kelompok etnis tertentu menghabiskan waktu selama 1 bulan di daerah pegunungan terpencil sebagai bagian dari inisiasi menuju kedewasaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sayangnya, banyak remaja dan pemuda yang meregang nyawa saat mengikuti inisiasi ini. Tidak sedikit yang tewas akibat terkena infeksi, mengalami kelelahan dan dehidrasi. Ratusan orang lainnya harus dilarikan ke rumah sakit saat mengikuti prosedur ini.
Dalam pernyataannya, Menteri Urusan Tradisional Afsel, Obed Bapela menyebut tahun lalu ada lebih dari 100 orang tewas saat mengikuti prosedur tersebut. Meskipun Bapela menyebut jumlah tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2010 lalu yang mencapai 419 orang tewas.
Tidak diketahui pasti berapa jumlah pemuda yang tewas saat mengikuti ritual sunat tradisional ini, pada tahun ini.
"Kami mengharapkan penurunan drastis jumlah kematian hingga ke angka nol dalam sekolah inisiasi," ucap Bapela.
Bapela menekankan, bahwa hanya ahli medis atau ahli bedah yang berkualifikasi dan terdaftar ke pemerintah yang bisa melakukan sunat. Kemudian juga, lanjut Bapela, ritual sunat hanya bisa dilakukan di fasilitas tertentu yang mendapat izin pemerintah.
Di sisi lain, otoritas setempat juga tengah menyelidiki sejumlah orang terkait kematian pemuda dalam ritual sunat yang digelar tahun lalu.
(nvc/mad)











































