Terjebak di Antara Militan dan Pasukan Pemerintah, Warga Irak Putus Asa

Terjebak di Antara Militan dan Pasukan Pemerintah, Warga Irak Putus Asa

- detikNews
Kamis, 26 Jun 2014 15:34 WIB
Terjebak di Antara Militan dan Pasukan Pemerintah, Warga Irak Putus Asa
warga Irak mengungsi (Reuters)
Baghdad, - Para militan Sunni terus melancarkan serangan-serangan di sejumlah wilayah Irak. Pertempuran antara pasukan Irak dan para militan pun terus terjadi. Kondisi ini menimbulkan keputusasaan bagi rakyat Irak yang terperangkap di tengah konflik tersebut.

Seorang wanita Irak, Amsha dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka di kota Tal Afar, Irak utara setelah serangan mortir pada suatu malam menewaskan tetangganya. Wanita berumur 24 tahun itu beserta delapan anggota keluarganya kini tinggal di sebuah tenda di kamp Germawa di provinsi Dohuk, yang dihuni mayoritas warga Kurdi.

Amsha menggambarkan malam-malam penuh teror yang dialaminya, ketika para militan Sunni terlibat baku tembak dengan pasukan Irak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami seperti mau gila dengan serangan-serangan itu. Pesawat-pesawat pemerintah terbang berputar-putar dan kami tidak tahu kapan mereka akan menembak atau di mana," tutur Amsha seperti diberitakan AFP, Kamis (26/6/2014).

"Tetangga kami tewas dalam serangan di suatu malam ketika dia akan pergi ke toilet, dan kami semua tak bisa tidur karena kami tidak tahu apakah kami bisa bangun kembali," ujarnya.

Setelah beberapa hari terjadi pertempuran, Amsha dan keluarganya angkat kaki dari rumah mereka, sampai akhirnya mereka pun tiba di Germawa. Kamp tersebut menampung hampir 700 orang warga yang mengungsi. Mereka berasal dari kota Tal Afar dan Mosul, kota pertama di Irak yang jatuh ke tangan para militan Sunni.

Dikatakan Amsha, dirinya memilih kabur karena takut akan serangan-serangan militan dan pasukan Irak. "Kami terjebak di tengah-tengah... Kami cuma ingin bisa tidur dan tahu bahwa kami akan bangun kembali di pagi hari," kata Amsha sembari menangis.

Dituturkan Amsha, dirinya tidak peduli soal siapa yang memimpin negara. "Saya tak peduli siapa yang memimpin: Arab, Kurdi, Sunni, Syiah. Kami cuma menginginkan masa depan," pungkas mahasiswi tersebut.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, krisis Irak yang dipicu kelompok militan Sunni Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) ini, telah merenggut sedikitnya 1.075 nyawa selama kurun waktu antara 5 Juni hingga 22 Juni.

(ita/ita)


Berita Terkait