Aksi penembakan helikopter jenis Mi-8 ini menunjukkan, otoritas Rusia dan pemimpin kelompok pemberontak ternyata memiliki kendali terbatas atas pasukan pemberontak yang ada di wilayah Ukraina. Kebanyakan pemberontak bertindak berdasar aturan mereka sendiri.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko pada Jumat (20/6) memerintahkan gencatan senjata selama 1 minggu, yang kemudian diterima oleh pemberontak pada Senin (23/6) kemarin. Hal ini sempat memunculkan harapan bahwa krisis di Ukraina akan bisa diakhiri, setelah berjalan selama 11 minggu dan merenggut 435 nyawa.
Namun adanya serangan pemberontak ini, memupuskan harapan tersebut. Kantor presiden Ukraina justru mengumumkan kesiapan untuk melancarkan kembali operasi militer di wilayah timur dengan pasukan baru.
"Kepala negara tidak mengecualikan bahwa gencatan senjata mungkin akan dicabut lebih cepat dari jadwal, seiring adanya pelanggaran konstan oleh pemberontak yang dikendalikan dari luar negeri," demikian bunyi pernyataan kantor Presiden Poroshenko, seperti dilansir AFP, Rabu (25/6/2014).
Disebutkan bahwa, Presiden Poroshenko berharap untuk melakukan pembahasan mengenai insiden helikopter tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pembahasan ini akan dilakukan via telekonferensi, dan juga diikuti oleh Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande.
Juru bicara militer Ukraina menyebutkan, helikopter itu ditembak ketika tengah mengudara. Pemberontak menggunakan rudal pertahanan udara portabel untuk menembak jatuh helikopter tersebut dari markas mereka di Slavyansk. Namun otoritas Ukraina dan Amerika Serikat menuding Rusia sengaja mengirimkan persenjataan kepada pemberontak pro-Rusia di Ukraina.
Slavyansk merupakan kota industri dengan 120 ribu jiwa penduduk, yang sejak lama menjadi lokasi pertempuran pemberontak dengan tentara Ukraina. Bahkan dampaknya membuat kota ini menjadi 'kota hantu'.
(nvc/ita)











































