Tentara Korsel yang diketahui bernama Sersan Lim (23) itu melemparkan granat dan melepaskan tembakan secara membabibuta pada Sabtu (21/6) malam di perbatasan Kota Goseong, Provinsi Gangwon. Lim yang membawa senjata dan amunisi kemudian melarikan diri ke posnya, di dekat perbatasan Korea Utara, demikian seperti dilansir Reuters, Minggu (22/6/2014).
Pemerinta Korsel kini memburu Lim karena khawatir insiden serupa bisa terulang lagi. "Pencarian dilakukan untuk mencegah terjadinya insiden serupa di tempat lain," seperti disampaikan oleh juru bicara kementerian pertahanan, Kim Min-seok pada Minggu (22/6/2014) seperti dikutip dari BBC.
Tentara Korsel kini, menurut stasiun TV Korsel YTN, mendapatkan perintah untuk menembak mati, kecuali Lim menyerahkan diri. Baku tembak masih terjadi di dekat sekolah, sekitar 10 km dari markas militer di Goseong.
Orangtua Lim pun dibawa ke lokasi perburuan. Menurut kantor berita Korsel, Yonhap, ibunda Lim meminta anaknya itu untuk menyerah.
Motif Lim melempar granat belum diketahui. Namun menurut pejabat militer, Lim masuk dalam daftar mereka yang membutuhkan perhatian khusus, karena mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kehidupan militer. Menurut pejabat militer itu seperti diberitakan Yonhap, Lim akan dipecat dalam waktu tiga bulan.
Peristiwa serupa pernah terjadi dalam militer Korea Selatan, yang menerapkan wajib militer. Bullying dan masalah mental disebutkan menjadi penyebab serangan sebelumnya. Pada 2011, seorang marinir menembak rekan-rekannya dan berupaya untuk meledakkan dirinya dengan granat. Empat orang tentara tewas dalam insiden tersebut.
Puluhan ribu tentara dari Korea Utara dan Selatan bertugas di perbatasan bersama, yang merupakan benteng 'terberat' di seluruh dunia.
Wilayah Korea terbagi dua pada akhir perang Korea yang terjadi 1950-53 yang diakhiri dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai sehingga sampai saat ini mereka secara teknis masih berperang.
(nwk/vid)











































