Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pernyataan resminya mengatakan akan mengirimkan sekitar 300 penasehat militernya ke Irak, sebagai reaksi atas penyerangan Militan Sunni pada negara tersebut. Dalam kesempatan itu, Obama kembali menegaskan bahwa pasukan AS tak akan melakukan sejumlah aksi militer, namun hanya bertindak sebagai penasihat saja.
"Pasukan Amerika tak akan membawa senjata dan tak akan bertempur di negara Irak," ujar Obama dalam pernyataannya kepada media di Gedung Putih, Washington, AS, Kamis (19/6) waktu setempat, atau Jumat (20/6/2016) sekitar pukul 01.00 WIB.
Seperti dilansir Reuters, Obama menyatakan bahwa konflik internal yang terjadi di negara timur tengah tersebut tak akan selesai apabila AS memaksakan diri untuk mengirimkan pasukannya ke Irak dan terjun ke medan peperangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah tentu pasti, konflik internal ini adalah sesuatu yang hanya dapat diselesaikan oleh masyarakat Irak sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain," tutur Obama.
Amerika Serikat menginvasi Irak pada tahun 2003 untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein. Namun pada 2011 AS menarik pasukannya dari negara tersebut dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada pemerintah Perdana Menteri Nuri Al-Maliki. Akan tetapi Maliki malah menciptakan perpecahan.
Sejak teror militan Sunni terjadi di Irak, Obama telah dihadapkan pada tuntutan adanya strategi baru AS atas meningkatnya krisis di Irak. Gedung Putih bersikeras bahwa Obama tidak mengesampingkan permintaan Baghdad agar AS melancarkan serangan udara terhadap para militan. Namun dalam pernyataannya, Obama akhirnya memutuskan untuk mengirimkan pasukannya ke Irak sebagai penasihat militer.
(rni/fjr)











































