PBB Kecam Pembantaian Tentara Irak oleh Militan Sunni

PBB Kecam Pembantaian Tentara Irak oleh Militan Sunni

- detikNews
Selasa, 17 Jun 2014 10:46 WIB
PBB Kecam Pembantaian Tentara Irak oleh Militan Sunni
Baghdad, - Para militan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah membantai tentara-tentara Irak dan sejumlah pemimpin agama di negeri itu. Pembantaian ini dikecam oleh kepala HAM PBB Navi Pillay.

"Berdasarkan laporan kuat dari sejumlah sumber, tampaknya ratusan pria telah dieksekusi mati dalam lima hari terakhir, termasuk tentara-tentara yang ditangkap dan menyerah, para wajib militer, polisi dan lainnya yang terkait dengan pemerintah Baghdad," tutur Pillay dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (17/6/2014).

"Meskipun jumlahnya belum bisa diverifikasi, serangkaian eksekusi berdarah dingin yang sistematis, yang kebanyakan dilakukan di berbagai lokasi di wilayah Tikrit, nyaris sama dengan kejahatan perang," imbuh pejabat tinggi badan dunia itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para militan ISIL saat ini telah menguasai kota Mosul dan Tikrit di Irak utara. Kelompok militan Sunni itu bahkan bersumpah akan bergerak ke ibukota Baghdad untuk menggulingkan pemerintahan Irak yang didominasi Syiah.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat juga mengecam pembantaian tentara-tentara Irak oleh militan ISIL. Dari foto-foto yang diposting di internet, terlihat para militan Sunni tersebut membunuh puluhan tentara Irak yang mereka tangkap. Sementara kelompok ISIL lewat akun Twitter mereka menyebutkan bahwa mereka telah membunuh 1.700 tentara Syiah Irak.

"Klaim ISIL bahwa pihaknya telah membantai 1.700 anggota Angkatan Udara Syiah Irak di Tikrit adalah mengerikan dan merupakan gambaran sejati dari haus darah yang ditunjukkan para teroris ini," cetus juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki.

"Meski kita tak bisa mengkonfirmasi laporan ini, namun salah satu tujuan utama ISIL adalah menebar teror di hati semua warga Irak dan memicu perpecahan sektarian di kalangan rakyatnya," imbuh Psaki.

(ita/ita)


Berita Terkait