Seperti dilansir AFP, Sabtu (14/6/2014), imbalan masing-masing sebesar US$ 5 juta atau setara Rp 59,1 miliar ditawarkan bagi penangkapan seorang mantan anggota Boko Haram asal Nigeria dan dua pemimpin kelompok militan Movement for Oneness and Jihad in West Africa (MUJAO) yang berbasis di wilayah Maghreb.
Sedangkan imbalan sebesar US$ 3 juta atau setara Rp 35,4 miliar ditawarkan bagi seorang anggota militan Mesir yang merencanakan serangan terhadap AS. Demikian disampaikan oleh Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya mengenai program Rewards for Justice.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuh warga asing dari Inggris, Yunani, Libanon dan Italia tesebut akhirnya dilepaskan. Barnawi juga dilaporkan ikut serta dalam rencana penculikan seorang warga Inggris dan teknisi asal Italia pada Mei 2011 lalu. Kedua warga asing tersebut akhirnya tewas 10 bulan setelah diculik.
"Ansaru berawal dari pecahan Boko Haram, yang memiliki hubungan dekat dengan Al-Qaeda in the Islamic Maghreb, dan menjadikan warga asing sebagai target, termasuk warga negara AS," jelas Departemen Luar Negeri AS.
Selain Barnawi, AS juga tengah memburu Hamad el-Khairy dan Ahmed el-Tilemsi sebagai pendiri kelompok MUJAO dan juga mantan anggota AQIM. Tilemsi terlibat dalam penculikan 2 warga Prancis di Niamey, Niger pada Januari 2011 lalu. Kedua warga Prancis tersebut dieksekusi mati di Mali setelah upaya penyelamatan oleh militer Prancis gagal dilakukan.
Sebagai pemimpin militer MUJAO, Tilemsi juga terlibat dalam penculikan tiga relawan asal Eropa di Aljazair dari sebuah kamp pengungsi di Tindouf, pada Oktober 2011. MUJAO mengklaim bertanggung jawab atas penculikan tersebut. Tiga warga Eropa tersebut akhirnya dibebaskan pada Juli 2012 di Mali, dan ditukar dengan pembebasan tiga militan yang ditahan Mauritania.
Militan terakhir yang diburu AS dengan imbalan besar ialah ahli bahan peledak asal Mesir, Abu Yusuf al-Muhajir. Dia juga dikenal sebagai mantan anggota kelompok Tawhid w'al Jihad Egypt yang digambarkan sebagai kelompok ekstremis yang aktif di Semenanjung Peninsula antara tahun 2004-2006.
"Abu Yusuf terlibat dalam serangan terhadap sejumlah target di Mesir, termasuk kepentingan AS," terang Departemen Luar Negeri AS.
(nvc/asp)











































