Pemilu presiden putaran kedua ini diikuti oleh dua kandidat utama, yakni mantan menteri luar negeri Abdullah Abdullah dan mantan ekonom Bank Dunia Ashraf Ghani. Putaran kedua digelar karena tidak ada kandidat yang berhasil meraih suara di atas 50 persen.
Dalam putaran pertama yang digelar pada April lalu, kedua kandidat memuncaki perolehan suara dari delapan kandidat yang mencalonkan diri. Abdullah meraih 45 persen suara dan Ghani meraih 31,6 persen suara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Afghanistan dan sekutu internasional berharap agar pemilu putaran kedua ini bisa berjalan lancar seperti putaran pertama. Saat itu, militan setempat gagal meluncurkan serangan mematikan dan jumlah pemilih tercatat lebih dari 50 persen penduduk Afghanistan.
Namun pelaksanaan putaran kedua ini dibayang-bayangi oleh ancaman militan Taliban, yang secara khusus menyatakan akan menyerang tempat pemungutan suara saat pemilu digelar. Menanggapi hal ini, kepala misi PBB untuk Afghanistan, Jan Kubis memperingatkan pendukung kedua kandidat untuk tidak melakukan kecurangan maupun intimidasi apapun.
"Jangan melakukan kecurangan. Jangan menggunakan intimidasi atau manipulasi untuk membantu kandidat Anda," tegas Kubis ketika pemungutan suara mulai dibuka pada pukul 07.00 waktu setempat.
Pelaksanaan pemilu di Afghansitan diwarnai oleh sulitnya kondisi medan lapangan dan buruknya kondisi jalanan. Panyaluran logistik menghadapi tantangan tersendiri dan memakan banyak waktu. Ribuan keledai digunakan untuk mengirimkan surat suara ke desa-desa terpencil.
Belum lagi proses penghitungan suara yang memakan waktu hingga berminggu-minggu. Hasil penghitungan awal pada putaran kedua dijadwalkan selesai pada 2 Juni dan pengitungan akhir akan ditetapkan pada 22 Juli mendatang.
(nvc/asp)










































