"(Militer) Mulai melakukan tugas mereka untuk membersihkan semua kota tercinta kita dari para teroris," terang PM Maliki dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Sabtu (14/6/2014).
Namun Maliki tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai di mana atau kapan operasi militer tersebut dimulai. Yang jelas, militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah berhasil menguasai sejumlah kota yang ada di wilayah utara dan memaksa militer Irak melarikan diri dari pos masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kota Samarra terdapat tempat suci kaum Syiah, Al-Askari yang sempat dibom militan pada tahun 2006 lalu. Aksi tersebut memicu perang antara kaum Syiah dan Sunni yang menewaskan puluhan ribu orang.
Pergerakan militan ISIL kali ini cukup agresif dan semakin meluas. Dalam waktu tiga hari terakhir, militan berhasil menguasai sejumlah besar wilayah di Irak bagian utara, termasuk Kota Mosul yang merupakan kota terbesar kedua di Irak. Tidak hanya itu, Kota Tikrit juga provinsi Nineveh dan bagian-bagian penting Kota Kirkuk juga telah jatuh ke tangan militan, yang dilaporkan terus berusaha menduduki ibukota Baghdad.
Militer Irak yang dikerahkan ke sejumlah wilayah strategis gagal untuk menghentikan pergerakan militan ISIL tersebut. Beberapa personel militer bahkan melepas seragam mereka dan meninggalkan kendaraan serta posisi mereka, untuk melarikan diri dari militan yang menyerang mereka.
Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari menyamakan penampilan militer Irak saat ini dengan situasi saat Saddam Hussein digulingkan tahun 2003 lalu. "Ini merupakan keruntuhan yang sama yang terjadi dalam jajaran militer Irak ketika tentara Amerika memasuki Irak," ucap Zebari kepada surat kabar setempat, Asharq al-Awsat.
"Mereka melepas seragam militer dan mengenakan pakaian sipil dan pulang ke rumah mereka, meninggalkan senjata dan peralatan mereka," imbuhnya.
(nvc/asp)











































